Epistemologi : Pengertian, Persoalan Pokok dan Alirannya


Epistemologi : Pengertian, Persoalan Pokok dan Alirannya

1.      Pengertian Epistemologi.
Epistemologi berasal dari bahasa yunani yaitu Epistime, artinya pengetahuan atau ilmu pengetahuan. Dan logos yang artinya juga pengetahuan atau informasi. Jadi dapat dikatakan epistemologi artinya pengetahuan tentang pengetahuan atau ada kalanya juga disebut filsafat pengetahuan, atau ada juga yang menyebut asal - usul, anggapan dasar, tabiat, rentang, kecermatan, dan lain - lain. J. F. Farrier pada tahun 1854 adalah orang yang pertama kali menggunakan istilah epistemologi. Karena pada saat itu banyak orang yang menyebutnya filsafat pengetahuan karena ia membicarakan tentang pengetahuan.
2.      Persoalan - Persoalan Pokok dalam Epistemology.
a.      Soal Pengetahuan: kekaguman sebagai awal munculnya epistemologi.
Aristoteles mengawali metafisikanya dengan pernyataan “setiap manusia dari kodratnya ingin tahu”. Ia begitu yakin mengenai hal itu sehingga dorongan untuk tahu ini tidak hanya disadari akan tetapi benar-benar diwujudkan dalam karyanya sendiri. Bukan tanpa alasan bahwa dia disebut “master” dari mereka yang tahu. Menurut Socrates sebagai dua generasi sebelum Aristoteles berpendapat bahwa tidak ada manusia mempunyai pengetahuan, tetapi sementara orang - orang lain mengira bahwa mereka mempunyai pengetahuan. Socrates sendiri yang tahu bahwa ia tidak tahu. Sedangkan menurut  Plato. Filsafat itu mulai dengan rasa kagum terhadap sesuatu yang canggih dan rumit, tetapi terhadap sesuatu yang sederhana, yang nampaknya jelas dipengalaman harian. Justru hal yang biasalah yang paling sulit dilukiskan. Dalam hal ini, terdapat pokok tertentu yang menjadi obyek epistemologi sendiri sebagai suatu menifes dari penyelidikan filosofis. Dalam pengertian ini, usaha Descrates benar - benar membuka suatu zaman yang sama sekali baru didalam sejarah pemikiran. Sebab usaha Descrates ini merintis tahap dimana kekakuman filosofis sendirilah yang dijadikan objek penelitiannya.
b.      Soal Common sense (anggapan umum atau akal sehat).
Common sense dapat diartikan penerimaan secara baik oleh seseorang, misalnya orang tersebut mengatakan sesuatu itu marah karena memang itu marah. Pengetahuan dalam filsafat juga dapat diartikan common sense yang sering disebut “good sense”. Karena seseorang itu memiliki sesuatu yang dimana ia menerimanya secara baik. Dengan common sense semua orang sampai pada keyakinan secara umum tentang sesuatu. Dimana mereka akan berpendapat sama semuanya.
c.       Skeptisisme.
Keberatan yang biasanya diajukan pada tahp ini adalah bahwa dalam pelaksanaannya epistimologi dianggap mengusulkan sesuatu tujuan khayal bagi dirinya sendiri. Sebab bila kita harus mendemonstrasikan validasi pengetahuan kita, berarti kita telah menggunakan kita dan akibatnya telah mengadakan validitasnya. Tahap keberatan ini ada beberapa jawaban. Kita dapat mengetahui segi positif  yang terdapat dalam keberatan tersebut. Apa yang ditekankan ialah kelekatan tanpa syarat antara pikiran dan kenyataan,  dan hal ini tentu saja perlu ditekankan adanya pengetahuan merupakan suatu hal yang pokok dan tak dapat direduksikan. Pikiran anda, dan adanya pemikiran merupakan kesaksian bagi dirinya sendri mengenai keterbukaan terhadap ada tidak ada atau penyangkalan terhadap keterbukaan ini yang dapat dipertahankan. Meskipun sanggahan terhadap skeptisisme cenderung bernada negatif, tetapi mempunyai akibat positif. Sebab yang dinyatakan oleh pendapat Gilson ialah: pada tahap tertentu pikiran secara niscaya melekat pada adasedemikian rupa, sehingga kelekatan ini tidak dapat disangkal. Maka kita sampai pada nilai tanpa syarat dari pernyataan bila kita menyadari bahwa tidak mungkinlah menyatakan ketidak mampuan kita untuk menyatakan.
d.      Aspek Eksistensial.
Kita dapat mengambil pendapat maritain bahwa tujuan epistemologi bukanlah menjawab pertanyaan apakah saya dapat tahu, tetapi untuk menemukan syarat - syarat yang memungkinkan saya untuk dapat tahu, jangkauan dan batas - batas pengetahuan saya. Peryataan ini merupakan definisi memadai dari tujuan dan jangkauan filsafat pengetahuan, dan tidak melibatkan kita pada ketidakkonsistenan. Dalam hal ini epistemologi tidak menyatakan hak saya untuk menyatakan sesuatu, tetapi membuat peta dan melukiskan jangkauan hak itu. 
e.       Analogi Pengetahuan.
Filsafat pengetahuan adalah keterbukaan awal terhadap macam - macam arti dari “pengetahuan”. Kita harus tetap membuka pintu bagi kemungkinan bahwa cara - cara mengetahui  mungkin ada bermacam - macam dan setiap cara mungkin secara shahih bisa disebut “pengetahuan”. Pengetahuan adalah pernyataan dari diri anda. Secara tradisioanal epistemologi untuk membatasi diri pada persepsi indrawi dan pemahaman intlektual, dimana pemahaman tersebut dimengerti secara sempit. Tetapi hal ini tidak memadai. Pengetahuan adalah peristiwa yang menyebabkan kesadaran manusia memasuki terang ada. Kita bisa meramalkan bagaimana ada itu dinyatakan. Sikap awal yang tetap bagi filsuf pengetahuan adalah kerendahan hati didalam mengahadapi pengalaman. Filsuf pengetahuan harus memiliki keterbukaan total.  
f.       Metode dalam epistimologi.
Anggapan umum diantara filsuf skolastik untuk melihat pengkajian pengetahuan hanya didalam penafsiran pernyataan bisa salah arah. Kesesuaian terletak didalam kenyataan bahwa anggapan mengenai “pengetahuan” dihubungkan erat dengan kenyataan dari pernyataan atau penyangkalan. Dan persoalan mengenai kebenaran hanya muncul dalam kaitannya dengan pertimbangan. Benar dalam pertimbangan mempunyai peranan penting yang sangat menentukan dari dalam pemahaman manusia. Namun disini epistemologi bukan hanya berurusan dengan pernyataan atau pertimbangan, tetapi epistemologi benar - benar  berurusan dengan pernyataan mengenai dasar pertimbangan. Nilai kebenaran pertimbangan harus diputuskan berdasarkan evidensi. Dan keterlibatan epistimologi sebenarnya adalah dengan persoalan evidensi. Persoalan ini lebih luas daripada persoalan pertimbangan. Mungkin saja bahwa saya tahu lebih banyak daripada yang dapat saya nyatakan didalam pertimbangan. Dari persoalan - persoalan yang dikemukakan oleh epistemologi ini terkandung nilai, yaitu berupa jalan atau metode penyelidikan kearah tercapainya pengetahuan yang benar.
3.      Aliran - Aliran dalam Epistemologi.
Seringkali tidak disadari bahwa begitu seseorang merumuskan sesuatu, atau membuat pernyataan tertentu. Sebenarnya ia telah melibatkan keputusan filsafati tertentu. Karenanya seorang pemikir. Demi kecermatan pemikirannya, mutlak perlu mengidentifikasikan keputusan filsafat terlibat didalam pemikirannya. Pengetahuan manusia diperoleh dengan berbagai cara dengan menggunakan berbagai alat. Ada beberapa aliran dalam epistemologi diantaranya adalah :
a.       Empirisme.
Kata empiris berasal dari kata yunani Empirikos yang berasal dari kata emperia artinya pengetahuan. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalaman. Dan dikembalikan kepada kata yunani nya, pengalaman yang dimaksud ialah pengalaman inderawinya. Manusia tahu es itu dingin karena ia menyentuhnya. Bapak aliran ini adalah John Locke (1632 - 1704) dengan teorinya “tabur rasa” yang artinya secara bahasa adalah meja lilin.
Aliran ini mempunyai bebrapa kelemahan diantaranya:
1.      Indra Terbatas.
Benda yang jauh kelihatannya kecil. Karena kemampuan indra ini dapat melaporkan objek yang tidak sebagaimana adanya.
2.      Indra Menipu.
Orang yang sakit malaria gula itu rasanya pahit. Karena objek yang menipu contohnya ilusi, fatamorgana, jadi objek itu tidak sebagaimana ditangkap oleh alat indra.
3.      Kekurangan terdapat pada indra dan objek sekaligus, indra (dalam hal ini mata) tidak bisa melihat kerbau secara keseluruhan, begitu juga kerbau tidak bisa dilihat secara keseluruhan.
Kesimpulannya ialah empirisme lemah karena keterbatasan indra manusia.
b.      Rasionalisme.
Secara singkat aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar hanya dapat diperoleh dengan akal. Manusia menurut aliran ini memperoleh pengetahuan melalui kegiatan akan menangkap objek. Bapak aliran ini orang mengatakan Rene Descrates (1596-1650). Meskipun paham ini jauh sudah ada sebelumnya (pada masa yunani kuno). Bagi aliran ini, kekeliruan pada empirisme yang disebabkan karena kelemahan  oleh alat indra tadi, dapat dikoreksi seandainya akal digunakan. Kendati demikian aliran ini tidak mengingkari kegunaan alat indra dalam memperoleh pengetahuan. Pengalaman indra diperlukan merangsan akal dan memberikan bahan - bahan yang menyebabkan akal dapat bekerja. Laporan indra merupakan bahan yang belum jelas dan kacau. Kemudian bahan tadi dipertimbangkan oleh akal dalam pengalamannya berfikir.
c.       Positivisme.
Tokoh aliran ini adalah Agust Comte (1798-1857). Ia penganut empirisme berpendapat bahwa indra itu amat penting dalam memperoleh pengetahuan, tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen. Kekeliruan indra dapat dikoreksi lewat eksperimen - eksperimen. Eksperimen memerlukan ukuran yang jelas. Contoh panas diukur dengan drajat panas, jauh diukur dengan meteran dan sebagainya. Kebenaran diperoleh dengan akal, didukung bukti empiris yang terukur. “terukur” itulah sumbangan positivisme. Jadi, pada dasarnya positivisme bukan suatu aliran yang khas berdiri sendiri. Ia hanya menyempurnakan empirisme dan rasionalisme yang bekerja sama. Dengan kata lain ia menyempurnakan metode ilmiah (scientific method) dengan memasukkan seperlunya eksperimen dan ukuran - ukuran. Jadi, pada dasarnya positivisme itu sama dengan empirisme dan rasionalisme.
d.      Intuisionisme.
Bergson (1859-1941). Adalah tokoh aliran ini, ia menganggap tidak hanya indra yang terbatas, akal juga terbatas. Objek - objek yang kita tangkap itu adalah objek yang selalu berubah, demikian Bergson. Jadi pengetahuan kita tentangnya tidak pernah tetap. Intelek atau akal juga terbatas. Akal hanya mampu memahami bagian - bagian dari objek, kemudian bagian - bagian itu dihubungkan oleh akal. Itu tidak sama dengan pengetahuan menyeluruh tentang objek itu. Kemampuan ini mirip dengan intinct, tetapi berbeda dalam kesadaran dan kebebasannya. Pengetahuan itu diperoleh bukan lewat indra dan bukan lewat akal, melainkan lewat hati. Dalam hal ini sama dengan Intuisionisme.

Pandangan Karl Marx tentang : Pertentangan Kelas, Agama, Ideologi dan Moda Produksi


Pandangan Karl Marx tentang : Pertentangan Kelas, Agama, Ideologi dan Moda Produksi

A.    Pertentangan Kelas.
Marx sering menggunakan istilah kelas di dalam tulisan - tulisannya, tetapi dia tidak pernah mendefinisikan secara sistematis apa yang dia maksud dengan istilah ini (SO dan suwarno,  1990:35). Namun hal ini belumlah merupakan deskripsi yang sempurna dari istilah kelas sebagaimana yang digunakan Marx.  Kelas, bagi marx, selalu di definisikan berdasarkan Potensinya terhadap konflik. Karena kelas didefinisikan sebagai sesuatu yang berpotensi menimbulkan konflik, maka konsep ini berbeda - beda baik secara teoritis maupun historis. Sebelum mengidentifikasi sebuah kelas, diperlukan suatu teori tentang di mana suatu konflik berpotensi terjadi dalam sebuah masyarakat. Bagi marx, sebuah kelas benar - benar eksis hanya ketika orang mmenyadari kalau dia sedang berkonflik dengan kelas - kelas yang lain. Tanpa kesadaran ini, mereka hanya akan membentuk apa yang disebut marx dengan suatu kelas di dalam dirinya. Ketika mereka menyadari konflik, maka mereka menjadi suatu kelas yang sebenarnya, suatu kelas untuk dirinya.
B.     Agama sebagai Candu.
Marx juga melihat agama sebagai sebuah ideologi. Dia merujuk pada agama sebagai candu masyarakat, namun sebaiknya kita simak seluruh catatannya : Kesukaran agama - agama pada saat yang sama merupakan ekspresi dari kesukaran yang sebenarnya dan juga protes melawan kesukaran yang sebenarnya.  Agama adalah napas lega makhluk yang tertindas, hatinya dunia yang tidak punya hati, spiritnya kondisi yang tanpa spirit.  Agama adalah candu masyarakat. Marx percaya bahwa agama, seperti halnya ideologi, mereflesikan suatu kebenaran, namun terbalik. Karena orang - orang tidak bisa melihat bahwa kesukaran dan ketindasan mereka di ciptakan oleh sistem kapitalis, maka mereka diberikan suatu bentuk agama. Marx dengan jelas menyatakan bahwa dia tidak menolak agama, Pada hakikatnya, melainkan menolak suatu sistem yang mengandung ilusi - ilusi agama.
C.    Ideologi.
Perubahan - perubahan yang penting untuk perkembangan kekuatan - kekuatan produksi tidak hanya cenderung dicegah oleh relasi - relasi yang sedang eksis, akan tetapi juga oleh relasi - relasi pendukung, institute - institusi,dan khususnya, ide - ide umum.  Ketika ide - ide umum menunjukan fungsi ini,  Marx memberikan nama khusus terhadapnya : ideologi. Sebagai halnya dengan istilah - istilahnya yang lain Marx tidak selalu persis tentang penggunaan kata ideologi.  Dia menggunakan kata tersebut untuk menunjukan bentuk ide - ide yang berhubungan. Ideologi merujuk kepada ide - ide yang secara alimiah muncul setiap saat di dalam kapitalisme, akan tetapi yang, karena hakikat kapitalisme, merefleksikan realitas di dalam suatu yang terbalik (larrain,1979). Nilai manusia tidak benar - benar tergantung pada uang dan kita sering menemui orang yang hidup membuktikan kontradiksi - kontradiksi itu.  Faktanya, di sinilah level yang kuat sering menjadi sadar akan kontradiksi - kontradiksi material yang diyakini Marx akan membawa kapitalisme ke fase selanjutnya. Misalnya, kita menjadi sadar bahwa ekonomi bukanlah sebuah sistem objektif dan independen, melainkan sebuah ranah politik.
D.    Moda Produksi.
Di dalam proses produksi sosial yang dilakukannya, manusia memasuki relasi - relasi tertentu yang niscaya dan tidak bergantung pada keinginan mereka. Relasi - relasi produksi ini tergantung pada suatu langkah tertentu dari perkembangan kekuatan - kekuatan produksi material mereka. Totalitas hubungan - hubungan produksi ini membentuk struktur ekonomi masyarakat,yang merupakan fondasi sebenarnya dari suatu superstruktur hukum dan politik yang berhubungan satu banding satu dengan bentuk - bentuk kesadaran sosial yang jelas. Pada tahap tertentu dari perkembangan mereka, kekuatan - kekuatan produksi material di dalam masyarakat berkonflik dengan relasi - relasi produksi yang ada atau – apalagi kalau bukan ekspresi legal dari hal yang sama – dengan relasi properti tempat mereka bekerja sebelumnya. Dari bentuk - bentuk perkembangan kekuatan - kekuatan produksi ini, Relasi - relasi tersebut berubah menjadi kendala - kendala yang mengikat. Kemudian muncullah suatu periode revolusi sosial. Ketika fondasi ekonomi mengalami perubahan, keseluruhan superstruktur juga mengalami perubahan yang lebih kurang sama. 

Logika : Pengertian, Tujuan, Kegunaan, Manfaat, dan Hukum Dasar Logika


Logika : Pengertian, Tujuan, Kegunaan, Manfaat, dan Hukum Dasar Logika

A.    Pengertian Logika.
Logika ialah  ilmu yang dapat membimbing manusia ke arah berfikir secara benar yang menghasilkan kesimpulan yang benar sehingga ia terhindar dari berfikir secara keliru yang menghasilkan kesimpulan salah. Seorang filosof dan pemikir Yunani, Aristoteles (384-322 SM) yang pertama kali  mengatakan bahwa logika merupakan ilmu. Logika merupakan cabang dari ilmu filsafat yang menentukan penghargaan dan penelitian tentang suatu cara berfikir atau mengemukakan alasan - alasan. Jika fakta - fakta yang digunakan dalam cara berfikir itu sebelumnya sudah dinyatakan benar. Logika bukanlah suatu ilmu empirik tetapi ilmu yang bersifat normatif.
B.     Tujuan Logika.
Tujuan "Logika", dilihat dari karakter yang terkandung dalam logika itu sendiri, ialah "Memelihara, melatih, mengajar, dan mendidik yang bermuatan mengembangkan potensi akal dalam mengkaji objek pikir dengan menggunakan metodologi berpikir".
Untuk itu Tujuan Logika adalah :
1.      Dapat memelihara kemampuan dasar akal yang bersifat potensial  dari pengaruh luar (lingkungan) yang memungkinkan potensi akal ke arah kesesatan; untuk itu, metodologi berpikir sebagai produk dan terdapat secara inhern dalam logika turut menjaga dan mengurusnya serta meluruskan potensi akal dalam mengkaji objek pikirnya.
2.      Melatih orang untuk  terbiasa berpikir teoritis dan praktis : aplikasi - praktris - mekanistik berlogika.
3.      Mengajarkan manusia untuk menuju kemahiran intelektualitas sebagai hasil pengajaran logika tersebut berupa berpikir ilmiah baik bersifat saintifik, logis-filosofis, maupun mistik - sufistik.
4.      Untuk itu orang yang telah memahami logika diharapkan dapat :
a.       Menempatkan persoalan dan menunaikan tugas pada situasi dan kondisi yang tepat dan benar.
b.      Membedakan proses dan kesimpulan berpikir yang benar dari yang salah.
5.      Membahas hal - hal tentang suatu persoalan dengan syarat - syarat, dan jika sarat itu dapat di penuhi, maka manusia akan memperoleh apa yang telah di anggap benar, yang bagi masalah lain baru yang belum di akui kebenaranya. Jadi ilmu ini khusus untuk menerangkan jalan - jalan yang benar, dan dengan jalan inilah manusia bisa mencapai kebenaran tanpa memperhikan keadaan - keadaan yang sedang di pikirkannya.
C.    Kegunaan Logika.
Adapun kegunaan logika adalah :
1.      Membantu setiap orang agar dapat berpikir secara rasional, kritis, lurus, tepat, tertib, metodis dan koheren.
2.      Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat dan objektif.  
3.      Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri.
4.      Memaksa dan mendorong orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan asas - asas sistematis.
5.      Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kesalahan - kesalahan berpkir, kekeliruan serta kesesatan.
6.      Mampu melakukan analisis terhadap suatu kejadian.
7.      Terhindar dari klenik , gugon - tuhon ( bahasa Jawa ).
8.      Apabila sudah mampu berpikir rasional, kritis, lurus, metodis dan analitis sebagaimana tersebut point 1 maka akan meningkatkan citra diri seseorang.
D.    Manfaat Logika.
Mempelajari ilmu logika sangat besar manfaatnya, antara lain :
1.      Melatih kesanggupan akal dan menumbuhkan serta mengembangkan dengan pembiasaan membahas metode berfikir.
2.      Menempatkan sesuatu pada tempatnya dan menyelesaikan pekerjaan pada waktunya. Jadi sangat bertentang dengan logika, apabila membebani seseorang dengan sesuatu di luar kesanggupannya dan menunda pekerjaan hari ini ke hari esok.   
3.      Membuat seseorang mampu membedakan antara pikiran yang benar dan pikiran yang salah. Ini merupakan manfaat yang paling asasi ilmu logika (mantik), antara urut pikir yang benar oleh karenanya, akan menghasilkan kesimpulan yang benar dan urut pikir yang salah yang dengan sendirinya akan menampilkan kesimpulan yang salah. Al-Ghazali memandang ilmu logika (mantik) sangat berperan membina kebenaran berpikir, orang yang tidak mengerti ilmu logika (mantik), pendapatnya atau kesimpulannya yang di kemukakannya tidak bisa dipercaya.
4.      Dan melatih jiwa manusia agar dapat memperhalus pikirannya.
E.     Hukum Dasar Logika.
Ada tiga hukum dasar dalam logika, diantaranya :
1.      Hukum Identitas.
Hukum ini dapat disebutkan dengan berbagai cara seperti: “sesuatu adalah selalu sama dengan atau identik dengan dirinya, dalam Aljabar: A sama dengan A.” Rumusan khusus hukum tersebut tak terlalu penting. Pemikiran esensial dalam hukum tersebut adalah seperti berikut. Dengan mengatakan bahwa sesuatu itu sama dengan dirinya, maka dalam segala kondisi tertentu sesuatu itu tetap sama dan tak berubah. Keberadaannya absolut. Seperti yang dikatakan oleh ahli fisika: ” materi tidak dapat di buat dan dihancurkan.” Materi selalu tetap sebagai materi. Jika sesuatu adalah selalu dan dalam semua kondisi sama atau identik dengan dirinya, maka ia tidak dapat tidak sama atau berbeda dari dirinya. Kesimpulan tersebut secara logis patuh pada hukum identitas: Jika A  selalu sama dengan A, maka ia tidak pernah sama dengan bukan A (Non-A).
2.      Hukum Kontradiksi.
Hukum kontradiksi menyatakan bahwa A adalah bukan Non-A. Itu tidak lebih dari sebuah rumusan negatif dari pernyataan posistif, yang dituntun oleh hukum pertama logika formal. Jika A adalah A, maka menurut pemikiran formal, A tidak dapat menjadi Non-A. Jadi hukum kedua dari logika formal, yakni hukum kontradiksi, membentuk tambahan esensial pada hukum pertama. Beberapa contoh: manusia tidak dapat menjadi bukan manusia; demokrasi tidak dapat menjadi tidak demokratik; buruh - upahan tidak dapat menjadi bukan buruh - upahan. Hukum kontradiksi menunjukkan pemisahan perbedaan antara esensi materi dengan fikiran. Jika A selalu sama dengan dirinya maka ia tidak mungkin berbeda dengan dirinya. Perbedaan dan persamaan menurut dua hukum di atas adalah benar - benar berbeda, sepenuhnya tak berhubungan, dan menunjukkan saling berbedanya antara karakter benda (things) dengan karakter fikiran (thought).
3.      Hukum Tiada Jalan Tengah. (The Law of Excluded Middle).
Menurut hukum tersebut segala sesuatu hanya memiliki salah satu karakteristik tertentu. Jika A sama dengan A, maka ia tidak dapat sama dengan Non-A. A tidak dapat menjadi bagian dari dua kelas yang bertentangan pada waktu yang bersamaan. Dimana pun dua hal yang berlawanan tersebut akan saling bertentangan, keduanya tidak dapat dikatakan benar atau salah. A adalah bukan B; dan B adalah bukan A. Kebenaran dari sebuah pernyataan selalu menunjukkan kesalahan (berdasarkan lawan pertentangannya) dan sebaliknya. Hukum yang ketiga tersebut adalah sebuah kombinasi dari dua hukum pertama dan berkembang secara logis. Ketiga hukum tersebut mencakup sebagian dasar-dasar logika formal. Alasan - alasan formal berjalan menurut proposisinya. Selama 2.000 tahun aksioma-aksioma yang jelas dalam sistim berfikir Aristoteles telah menguasai cara berfikir manusia, layaknya hukum pertukaran dari nilai yang sama, yang telah membentuk fondasi bagi produksi komoditi masyarakat.
 

Agama Yahudi : Silsilah, Peribadatan, Nabi, Kitab Suci, Sekte nya


Agama Yahudi : Silsilah, Peribadatan, Nabi, Kitab Suci, Sekte nya

A.    Pendahuluan.
Agama Yahudi, sebagai agama Samawi, merupakan salah satu agama yang terbesar di dunia. Agama ini berpusat di daerah Israel (Palestine). Dalam bahasa Inggris, orang Yahudi disebut Jews dan pemeluknya disebut Judaism. Agama ini adalah salah satu agama samawi yang diklaim sebagai agama tertua di dunia dan berasal dari Ibrahim. Banyak penjelasan mengenai agama Yahudi, salah satunya yang menyatakan bahwa agama Yahudi itu merupakan suatu keyakinan yang dihubungkan dengan ide ketuhanan serta perwujudan suatu bangsa yang telah dipilih Tuhan. Ada juga yang menjelaskan bahwa agama Yahudi itu adalah agama yang dihasilkan oleh proses perkembangan sejarah Bani Israel yang sudah melalui masa sekian lama, ditumbuhkan dari ide Taurat, Talmud dan watak pembawaan bangsa Israel itu sendiri. Agama ini berkitab sucikan Taurat. Bangsa Yahudi, menurut sebagian sejarawan, hakekatnya adalah bangsa campuran berbagai unsur (mixed race) yang dipersatukan oleh satu nasib dan watak. Mereka hidup mengembara seperti orang Badui. Untuk mendapatkan wilayah untuk tinggal, bangsa ini melakukan peperangan dengan penduduk pribumi. Salah satunya berperang dengan penduduk Kananiah (Palestine). Dasar pemikiran dan tingkah laku Yahudi adalah Talmud, yaitu pedoman rahasia yang tidak diketahui dengan pasti, kecuali oleh mereka sendiri. Dengan demikian, posisi agama Yahudi sebagai agama samawi, seakan berubah menjadi organisasi rahasia. Sejarah agama Yahudi diklaim sejak adanya Nabi Musa (4000 tahun yang lalu). Dalam paham agama Yahudi, mereka memiliki semacam keyakinan akan “ Goya “. Goya, atau dalam bahasa Ibraninya disebut “ Gentiles “, merupakan keyakinan bahwa mereka diciptakan sebagai bangsa (umat) pilihan Tuhan, dan bangsa lain diciptakan Tuhan untuk melayani Yahudi semata. Dalam Protokol – protokol Pendeta Zionis, istilah ini disebut Yahudi dan Yoyeem (umami). Agama Yahudi, dalam kehidupan keagamaannya, mempunyai beberapa keyakinan seperti tentang akan datangnya Sang Messiah, konsep ketuhanan maupun ritual – ritual ibadahnya.
B.     Silsilah dan Agama Yahudi.
Yahudi (Judaism, Yudaisme), tidak dapat dijelaskan semata – mata dalam konteks sebuah keyakinan keagamaan, tetapi juga terkait dengan satu bangsa, Bangsa Israel. Mendefinisikan Yahudi dalam konteks ras juga menimbulkan beberapa masalah, karena Yahudi tampil dalam bentuk ras yang berbeda. Ada Yahudi Eropa, Yahudi Afrika dan juga Yahudi – Yahudi lainnya. Mereka menggunakan bahasa dan budaya dimana mereka tinggal. Namun diyakini, pemeluk agama Yahudi, yang terbanyak adalah dari keturunan Israel (Ya’kub). Namun, umat Yahudi sendiri menyatakan bahwa agama Yahudi adalah agama untuk satu bangsa, satu suku saja. Agama Yahudi tidak untuk disebarkan ke bangsa atau suku lain. Mereka menyatakan bahwa Musa atau Bangsa Israel diperintah Tuhan untuk menyeru agama Yahudi hanya untuk Bani Israel. Jikalau ada suku atau orang yang bukan keturunan Bani Israel masuk agama Yahudi, maka ia akan cepat – cepat dihisabkan ke salah satu keturunan dari cabang – cabang Bani Israel. Esensi agama Yahudi terletak pada apa yang disebut sebagai The Ten Commandments atau Decalogue, yang berarti “ Sepuluh Perintah Tuhan “. Sepuluh perintah tersebut mengandung aspek akidah, ibadah, syari’ah, hukum dan etika.
Sepuluh Perintah tersebut antara lain : 1.     
1.      Aku adalah Tuhanmu, yang telah membawa kamu keluar dari Mesir, keluar dari rumah perhambaan. Jangan ada Tuhan bagimu selain Aku.
2.      Jangan diperbuat olehmu akan patung ukiran atau akan barang peta daripada yang dalam langit di atas, atau daripada barang yang di atas bumi di bawah, atau daripada barang yang di dalam air di bawah bumi. Jangan kamu menyembah sujud atau berbuat bakti kepadanya – Nya, karena Akulah Tuhanmu.
3.      Jangan kamu menyebut Tuhan dengan sia – sia, karena Tuhan suci dari segala orang yang menyebut nama – Nya dengan sia – sia.
4.      Ingatlah pada hari Sabbath , hari dimana kamu tidak boleh bekerja. Bekerjalah dihari – hari selain hari Sabbath.
5.      Berilah hormat kepada bapa dan ibumu.
6.      Jangan kamu membunuh.
7.      Jangan kamu berbuat zina.
8.      Jangan kamu mencuri.
9.      Jangan kamu mengatakan kesaksian dusta akan sesama manusia.
10.  Jangan kamu ingin akan rumah sesamamu manusia, jangan kamu ingin akan bini sesamamu manusia, atau akan hamba sahayamu, pada hewan dan akan barang apa – apa yang sesamamu manusia punya.
Tradisi keagamaan Yahudi berasal dari proses sejarah yang panjang, melalui lisan para nabi dan rabi mereka, dengan konsep – konsep Ketuhanan dan moral yang terus menerus diwariskan dan dimatangkan. Tema sentral agama Yahudi adalah hubungan manusia dengan Tuhannya melalui perjanjian yang ditetapkannya. Tuhan adalah Maha Kuasa, Pencipta segalanya, yang mendengarkan dan menyelamatkan hamba – Nya. Tuhan mempunyai banyak nama dalam agama Yahudi. Seperti The Strong One (Maha Kuat), El Shaddai (Maha Kuasa), El Olom (Maha Kekal), El Khai (Maha Hidup), El Elyon (Maha Tinggi), Elohim (Tuhan), Adon (Penguasa), Adonay Tzivaot (Penguasa Segala Pasukan), Melekh (Maha Mengatur).  Ajaran ke – Esaan Tuhan menurut Yahudi adalah hasil perkembangan dari kepercayaan yang henotis menuju kepercayaan yang mengakui ke – Esaan Tuhan. Ketika Yahudi masih menganut kepercayaan animisme, roh – roh nenek moyang mereka sembah, yang kemudian dalam tingkatan politeisme menjadi dewa. Kata “ Hebrew “, yang berarti Tuhan, merupakan kata yang berasal dari kata “ eloh / elohim “. Tiap kabilah dari Yahudi, dahulu, mempunyai “ eloh “ sendiri – sendiri. Dan akhirnya, penganut Yahudi mengakui “ elohim “ dari bukit Sina, yakni “ YeHoVah “. YeHoVah kemudian menjadi Tuhan nasional Yahudi, dan “ eloh – eloh “ yang lain tidak diakui lagi.  Istilah “ YeHoVaH “, tidak diketahui pasti dari mana sumbernya. Huruf hidup Ibrani baru ada sekitar tahun 500 M. Sebelum itu, huruf Ibrani tidak ada huruf saksi (vokal). Sifat YeHoVaH menurut Taurat ada dua macam yakni antromorfisme dan antropopatisme. Yang pertama, menyifati Tuhan sebagai manusia, seperti Tuhan mempunyai bibir, berkata – kata, mempunyai tangan dan sebagainya. Yang kedua, menyifati Tuhan dengan berbagai perasaan manusia, seperti Tuhan membenci, berdiam diri, marah, mengasihi dan sebagainya.
Kepercayaan kaum Yahudi ( Israel ) kepada YeHoVaH melalui beberapa fase. Fase pertama, mereka tidak menghiraukan seruan Nabi Musa untuk menyembah YeHoVaH sebagai satu – satunya Tuhan. Akan tetapi, mereka justru menyembah anak lembu dan ular yang dianggap suci. Fase ini terjadi ketika Bani Israel dipimpin oleh Nabi Daud. Fase berikutnya, pada masa Haikal Sulaiman. Pada masa ini, mereka ( Yahudi Israel ) menganggap bahwa YeHoVaH tidak banyak bedanya dengan batu – batu berhala atau patung – patung, sebab disitulah tempat bertumpunya semua roh dan disitu pula tempat mempersembahkan korban penyembelihan dan juga tempat terpancangnya kepala anak lembu. Fase setelah masa Haikal Sulaiman, umat Yahudi pada masa ini tetap saja seperti masa – masa sebelumnya. Ketika Yesaya menyeru kepada mereka untuk meng-Esakan Tuhan, sedikit sekali diantara mereka yang mendengarkannya. Yang terjadi justru mereka menuduh Yesaya sebagai pengkhianat (bersekutu dengan Raja Cyrus, Raja Persi).
Sepanjang masa sejarahnya, umat Yahudi Israel tidak pernah menyembah Tuhan Yang Maha Esa seperti yang diajarkan oleh para nabinya. Ada anggapan bahwa agama Yahudi terdiri dari dua asa pokok, yaitu keEsaan Tuhan dan terpilihnya Bangsa Israel. Hal ini tercantum dalam Kitab Imamat Lew 20 : 24 – 26 : “ Aku inilah Tuhan Allahmu, yang telah mengasingkan kamu daripada segala bangsa yang lain. Maka, hendaklah kamu menjadi suci bagi – Ku, karena Aku ini Tuhan Yang Maha Suci adanya, maka Aku telah mengasingkan kamu daripada segala bangsa yang lain itu, supaya kamu menjadi umat – Ku “. Dan dalam Kitab Ulangan 7 : 6 – 8 : “ Sesungguhnya engkau wahai Israel, adalah bangsa yang suci bagi YeHoVaH, Tuhanmu. Engkau telah menjadi pilihan utama YeHoVeH, Tuhanmu, agar engkau menjadi bangsa yang utama daripada bangsa lain di muka bumi ini. Tuhan berdampingan dengan kamu dan telah memilih kamu “.
Dengan dasar ini, mereka membandingkan dirinya (Israel) dengan bangsa lain seperti manusia dan binatang. Bangsa Israel, mereka anggap sebagai manusia dan bangsa lain sebagai binatang atau yang melayani Bangsa Israel. Namun pada kenyataannya, Bangsa Israel yang mengklaim bahwa dirinya adalah bangsa pilihan, justru melakukan hal – hal yang tidak menunjukkan kepatuhan kepada Tuhannya. Mereka memberontak, membelakangi Tuhan, dari kafir menjadi iman dan kembali ke kafir lagi, di satu saat menyembah Tuhan, namun di saat lain mereka menyembah berhala. Agama Yahudi, juga mempercayai akan datangnya seorang Sang Messiah di akhir zaman. Mereka menggambarkan Sang Messiah adalah utusan dari langit dan pemimpin yang akan mencurahkan segala petunjuk dan pengajaran, sehingga umat manusia mencapai kemuliaan dan khususnya, Bani Israel, akan dipertuankan di muka bumi. Mereka meyakini bahwa Al Masih (Messiah), bukanlah manusia biasa, melainkan seorang yang sakti yang diciptakan Tuhan jauh sebelum sejarah manusia dimulai. Dia nantinya akan diberi kekuatan oleh Tuhan dan akan muncul dalam bentuk manusia yang memiliki tabiat campuran antara tabiat manusia dan tabiat Tuhan. Mereka juga menganggap bahwa Al- Masih yang ditunggu itu adalah seorang raja, penakluk yang berjaya, berasal dari keturunan Daud dan bernama “Anak Allah”. Ia akan datang untuk mengembalikan Israel kepada kebesaran, mempersatukan mereka yang terpecah belah dan terserak - serak untuk menjalankan hukum - hukum Taurat sebaik - baiknya.
C.    Peribadatan Agama Yahudi.
Dalam segi peribadatan, agama Yahudi mempunyai beberapa tradisi ibadah. Antara lain sembahyang, puasa, perayaan hari – hari suci, kurban, syari’ah dan etika.
1.      Sembahyang.
Sembahyang, dilakukan umat Yahudi 3 waktu dalam sehari, yaitu jam 9, 11, dan jam 3. Tidak ada tuntunan yang jelas tentang bagaimana umat yahudi melaksanakan sembahyang. Perintah sembahyang tiga kali sehari tercantum dalam kitab Talmud. Sembahyang pagi dilakasankan mulai terbit fajar sampai sepertiga panjang siang hari, kira-kira jam 10.00. Sembahyang siang dimulai sesaat setelah matahari condong ke barat sampai matahari terbenam, dan sembahyang malam mulai malam tiba sampai terbit fajar. Yang terpenting dalam setiap sembahyang umat Yahudi ialah apa yang disebut dengan tefillah (menurut Talmud), amidah, yaitu tegak berdiri mengawali sembahyang dengan mengucapkan shalawat sebanyak 19 kali, 3 kali pertama memuji kekuasaan Tuhan, Kemahaperkasaan-Nya, dan kesucian-Nya, 3 kali yang terakhir sebagai ucapan terimakasih atas rahmat-Nya yang tidak putus - putus, doa penutup untuk keselamatan dan kedamaian, sedang 13 lainnya ditengah - tengah dan merupakan permohonan untuk segala keperluaan.  Dalam sembahyang pagi dan malam, amiddah di dahului oleh sema, syahadat pertama orang Yahudi. Sema ditandai dengan 2 macam yaitu pujian kepada Tuhan yang telah menciptakan terang menderang pada waktu sembahyang pagi dan yang mengatur perjalanan hari dan malam pada sembahyang malam, dan pujian kepada Tuhan karena kecintaan-Nya kepada Israel sesuai dengan wahyu-Nya. Setiap sembahyang selalu diakhiri dengan alenu wajib atau doa wajib.
2.      Puasa Yahudi.
Umat Yahudi biasanya berpuasa ketika dalam masa berkabung atau berduka cita. Hal ini tercantum dalam kitab Samuel 1, 13:13, kitab Imamat Lewi 16: 29. Tujuan puasa bagi mereka adalah untuk menghapuskan dosa dan mensucikan diri dan menyatakan rasa keprihatinan. Puasa orang Yahudi dimulai ketika fajar menyingsing hingga kelihatan tiga buah bintang yang pertama terbit pada senja hari yang bersangkutan.
3.      Korban Dalam Agama Yahudi.
Korban merupakan salah satu upacara ibadat yang penting bagi umat Yahudi. Korban dalam tradisi umat yahudi di bagi menjadi tiga, yaitu korban perdamaian, korban pemujaan, dan korban lain-lain. Korban perdamaian adalah korban yang dilaksanakan untuk memohon perdamaian dengan Tuhan atas dosa yang di perbuat tanpa sengaja. Korban pemujaan terdiri dari korban bakar, korban keselamatan, dan korban sesaji. Korban lain-lain terdiri dari korban perjanjian, korban pelantikan umum, dan korban pembunuhan. Secara garis besar sesuai dengan bentuk korbannya tujuan korban itu adalah untuk memuliakan YeHoVaH, menembus dosa, dan mengadakan persekutuan dengan-Nya.   
4.      Hari Suci Yahudi.
Hari suci dalam umat Yahudi disamping erat hubungannya dengan korban, juga erat kaitannya dengan peristiwa sejarah, musim panen, dan juga dengan Hilal. Hari suci dalam umat Yahudi antara lain Hari Paskah (hari raya untuk merayakan pembebasan orang Israel dari perbudakan Fir’aun), Hari Pantekosta (hari ke-50 pesta paskah panen), Hari Perdamaian Besar (hari ke 10 bulan ke 7 menurut penanggalan Yahudi yang dirayakan dengan cara berpuasa untuk penghapusan dosa), Hari Pondok Daun (hari raya pengumpulan hasil panen), Hari Penembusan Dosa (jatuh pada akhir bulan ke-6 atau awal bulan ke-7 kalender Yahudi), Hari Bulan Baru (perayaan dan pensucian hari pertama tiap bulan yang dirayakan dengan kurban dan perjamuan), Hari Sabbath (hari Sabtu dimana orang Yahudi dilarang beraktivitas).   
5.      Syari’ah Yahudi.
Agama Yahudi, merupakan salah satu agama yang mempunyai hukum dan putusan – putusannya. Hukum dalam Yahudi antara lain mencakup hukum sipil (jangan merampas barang orang lain), hukum perhambaan, hukum kriminal (jangan membunuh, berzina, mencuri dan bersaksi palsu). Selain itu, di dalam agama Yahudi juga terdapat hukum khitan. Mereka mengadopsi khitan dari tradisi masyarakat Mesir kuno. Hukum waris dalam agama Yahudi menempatkan anak laki – laki sebagai pewaris utama dari orangtuanya. Hak waris tidak membedakan antara anak yang dilahirkan sah dari perkawinan dengan anak yang lahir dari hasil perzinaan. Hukum perkawinan dalam agama Yahudi menganjurkan pernikahan untuk anak laki – laki yang sudah berumur 13 tahun dan perempuan yang berumur 12 tahun. Atau orang yang sudah mencapai akil baligh, maka boleh melaksanakan pernikahan. Dalam agama Yahudi ada suatu larangan untuk menikah dengan orang yang bukan Yahudi (diharamkan).
6.      Etika Yahudi.
Hal terpenting bagi kesucian etika agama Yahudi adalah keadilan dan kebenaran. Kesucian menurut mereka, adalah dasar Yahudi sebagai suatu sistem undang – undang agama dan moral. Mereka percaya, bahwa orang Yahudi tidak akan dapat mencintai Tuhan jika tidak ada yang berpegang teguh pada kebenaran. Dalam konteks Bani Israael (Yahudi), mereka belum sepenuhnya dikatakan cinta kepada Tuhannya jikalau belum bisa mencintai orang lain dan tetangganya melebihi cinta kepada dirinya sendiri. Etika dalam agama Yahudi juga melarang apa yang dinamakan genebath daath. Yakni, perbuatan ataupun omongan yang berpura – pura (manis di lidah). Selain itu, umat Yahudi juga diperintahkan agar menjaga keselamatan makhluk, saling dengki, menganiaya sesama, riba dan memberi makan kepada orang miskin. Selain genebath daath, dalam etika agama Yahudi juga ada istilah gemeluth chasadim, yakni berbuat baik kepada manusia seperti menjenguk orang sakit, melayat jika ada umat Yahudi yang meninggal, sopan santun dan saling menghormati. 
D.    Nabi – Nabi Yahudi.
Agama Yahudi dikenal sebagai agama yang banyak nabi. Nabi yang diturunkan kepada umat Yahudi berusaha untuk menyeru umat Yahudi agar meninggalkan kejahatan dan kembali ke jalan yang benar, yakni mematuhi ketentuan – ketentuan Taurat yang diwariskan oleh Nabi Musa. Umat Yahudi, Israel, memang tergolong umat yang suka meniru kebudayaan atau tradisi bangsa lain. Banyak diantara umat Yahudi yang meniru tradisi atau cara hidup bangsa yang pernah menaklukkan mereka, seperti menyembah berhala. Namun kebanyakan pemuka agama mereka (pendeta, imam, dll) membenci nabi – nabi yang diutus Tuhan ini. Nabi umat Yahudi, dalam pengajarannya, lebih menekankan ke aspek moral dan keimanan. Hal ini dikarenakan moral dan iman umat Yahudi yang mudah goyah dan menyeleweng. Nabi yang dianggap sebagai nabi sejati umat Yahudi antara lain Isaiyah (Yesaya), Yeremia, Ezekil, Daniel, Amos, Obaya, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Maleakhi, Hagai, Zakaria, Elia, Natan dan Debora. Sedangkan Musa, Harun, Daud dan Sulaiman mereka anggap sebagai raja mereka.
E.     Kitab Suci Agama Yahudi.
Kitab suci agama Yahudi diakui juga sebagai bagian dari Kitab suci agama Kristen yaitu Perjanjian Lama. Umat Yahudi membaginya menjadi :
1.      Kitab Taurat (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan).
2.      Kitab Nabi - nabi, meliputi : nabi - nabi yang dahulu (Kitab Yusak, Hakim-hakim, Samuel dan  Raja - raja), nabi-nabi yang kemudian (Yesaya, Yeremia, Yezezkil, dan 12 nabi kecil mulai dari Hosea sampai Maleakhi).
3.      Surat - surat, terdiri dari Mazmur, Ayub, Amtsal, Rut, Nudub, al-Khatib, Ester, Daniel, Ezra, Nehemia dan Tawarekh.
Umat Yahudi tidak mengakui kitab Perjanjian Baru sebagai kitab suci. Selain dari Taurat mereka juga mengakui kesucian beberapa kitab, yaitu Talmud dan Protokol - protokol Pendeta Zionis. Talmud adalah suatu himpunan tafsiran tentang kitab suci yang pertama, yaitu Taurat. Tafsiran ini berisi tentang hukum, peradaban, kemanusiaan dan ketuhanan. Kandungannya berisi tentang kejadian atau sejarah bangsa Yahudi ribuan tahun yang lalu. Sejarah umat Yahudi masa lalu mereka jadikan sebagai pedoman hidup. Mereka lebih memuliakan Talmud daripada Taurat. Talmud, terbagi menjadi dua macam, Talmud Palestina dan Talmud Babilonia. Yang pertama dihasilkan oleh pendeta - pendeta Yerusalem sewaktu bani Israel tinggal menetap di Palestina, dan yang kedua tersusun pada waktu mereka berada dalam pembuangan di Babil. Adapun intisari Talmud terdiri dari 5 bagian. Bagian pertama berisi tentang sejarah seperti kelahiran Ibrahim, cerita Qabil dan Habil, kehancuran Babilonia, Sodom, dan Gomorah sampai dengan keluarnya Musa dari Mesir. Bagian kedua berisi tentang tafsiran kitab seperti hukuman Tuhan dan kisah raja Sulaiman yang bijaksana. Dalam agama Yahudi, juga terdapat tradisi mistik. Tradisi mistik ini bersumber dari Perjanjian Lama (Taurat) dan aliran yang sudah tercampur dengan filsafat Yunani. Mistik dalam agama Yahudi antara lain mistik Markabah, Hechaloth, Mistik Hadinisme dan Mistik Kabbalah.
F.     Sekte – Sekte Agama Yahudi.
Dalam tiap – tiap agama manusia, bisa dipastikan akan ada yang namanya sekte. Sekte adalah suatu pecahan dari salah satu agama yang ajarannya sudah tidak ortodoks (tidak sesuai dengan ajaran aslinya). Penyebab munculnya sekte tersebut dikarenakan adanya perbedaan pemahaman atau interpretasi terhadap ajaran tertentu dari suatu agama yang dianut. Begitu juga yang terjadi dalam agama Yahudi.
Agama Yahudi mempunyai beberapa sekte antara lain :    
1.      Sadducees.
Lahir dari kalangan pemuka Yahudi pada abad 1 M sebelum berakhir (awal abad 2 M). Ajaran dari sekte ini adalah bahwa akhirat itu tidak ada, termasuk surga, neraka, pembalasan dan hidup sesudah mati. Mereka tidak menerima Talmud. Taurat pun tidak mereka sucikan. Bersifat status quo dan bekerja sama dengan Pemeritahan Romawi (Raja Pontius Pilatus).
2.      Pharisees.
Yakni golongan yang terdiri dari golongan masyarakat Yahudi menengah. Guru, pengkhotbah atau penyiar agama merupakan salah satu orang yang masuk dalam sekte ini. Mereka hidup membujang dan zuhud dalam biara (sinagog). Mereka percaya akan adanya hari kiamat, hari pembalasan, surga, neraka dan malaikat. Mereka juga mematuhi Taurat dan Talmud. Talmud dikumpulkan oleh para rabbi. Mereka meyakini bahwa apa yang mereka katakan adalah dari Tuhan. Mereka sangat mengharapkan hukum Taurat disemua aspek, mempertahankan dan mengembangkannya.
3.      Essenes.
Yakni golongan yang mengasingkan diri dari kekacauan umat Yahudi pada masa itu (abad ke 1 M). Mereka juga menolak tradisi – tradisi dari Yunani atau luar Yahudi. Golongan ini juga mengajarkan bahwa umat Yahudi adalah pilihan Tuhan. Mereka tidak menerima kitab selain Taurat.   
4.      Zealouts.
Adalah golongan umat Yahudi yang fanatik terhadap kekuatan kaum mereka sendiri. Sekte ini lebih dekat ke hal – hal yang berbau politik. Juga disebut sebagai gerakan bawah tanah terhadap Pemerintahan Romawi waktu itu (abad 1 M).  
5.      Pembaca.
Sekte terkecil diantara sekte – sekte lain dalam agama Yahudi. Pengikutnya berasal dari pengikut Sadducees dan Pharisees yang membelot. Mereka hanya menerima Taurat dan melakukan ijtihad.
6.      Penulis.
Sekumpulan orang Yahudi yang bertugas menuliskan syari’at bagi orang yang memerlukannya.