Petasan Kembang Api (Bagian 2)



Petasan Kembang Api (Bagian 2)

“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina (Tiongkok)” begitulah bunyi salah satu pepatah Arab yang terkenal. Tiongkok atau Cina memang dikenal sebagai negeri yang peradabannya tua. Banyak produk budaya dihasilkan sejak lama di Cina. Salah satunya adalah bubuk mesiu yang kemudian memunculkan kembang api. Ada yang percaya kembang api mulai dikembangkan sekitar 2000 tahun silam. Perkembangannya tak lepas dari petasan .
Menurut catatan Sparklers from China (2005), penemuan itu terkait dengan seorang biksu bernama Li Tian. Dia tinggal di dekat kota Liu Yang di Provinsi Yunan. Li Tian ikut berjasa dalam penemuan petasan sekitar 1000 tahun silam. Karenanya, sebagian orang-orang Tionghoa merayakan penemuan petasan itu tiap 18 April. Semasa era dinasti Song, masyarakat Tionghoa setempat membangun kuil yang memuja Li Tian.  Petasan, yang masih sering dinyalakan tiap tahun baru Imlek, dipercaya akan mampu mengusir roh-roh jahat atau hantu jika dinyalakan. Tak hanya tahun baru, di acara kelahiran, kematian dan perayaan ulang tahun pun petasan biasa dipetaskan. Tidak heran jika dinasti Song, yang berjaya sejak 960 hingga 1279 itu, sudah mendirikan pabrik petasan yang kemudian menjadi dasar dari pembuatan kembang api. Adanya kembang api dan petasan tentu tak terlepas dari penemuan dari bubuk mesiu. 
Menurut buku Gunpowder, Explosives and the State : A Technological History (2006), kalium nitrat ternyata “sudah ditemukan oleh kebudayaan Cina pada pertengahan abad ke-1, dan banyak bukti bahwa penggunaannya dengan belerang banyak dipakai sebagai obat..... Bubuk mesiu ditemukan oleh ahli kimia asal Tiongkok pada abad ke-9 ketika sedang mencoba membuat ramuan kehidupan abadi.”
Sebuah tulisan tentang kimia dari Cina dari tahun 492 menuliskan bahwa kalium nitrat menghasilkan api ungu ketika dibakar, membuatnya dapat dikenali dan dipelajari lebih lanjut. Ini bisa dilihat pada buku Kenneth Chase, Firearms: A Global History to 1700 (2003). Marcopolo, orang Eropa yang terkenal karena jalinan persahabatannya dengan penguasa-penguasa Tiongkok, dianggap sebagai orang yang ikut membawa bubuk-bubuk mesiu dari Tiongkok ke Eropa. 
Menurut Michael S. Russell dalam The Chemistry of Fireworks (2009), pada 1252 di Inggris, seorang biarawan sekaligus ilmuwan bernama Roger Bacon juga meracik bubuk mesiu yang tak jauh beda dengan yang pertama kali dibuat di Tiongkok. Racikan itu terdiri dari kalium nitrat, sulfur dan juga bahan dari willow muda. Bacon juga dianggap sebagai orang yang menemukan kalau bahan peledak ini akan menghasilkan cahaya yang indah. Tentu saja dengan takaran yang pas. Takaran buatan Bacon ini lalu menjadi takaran dasar pembuatan kembang api belakangan. Lepas dari Bacon, orang-orang Italia kemudian mengembangkan berbagai pola dan warna kembang api seperti fountain fireworks. Bahan kimia lain pun dikembangkan dan menghasilkan warna-warna seperti kuning dan oranye di abad ke-19 oleh para pakar pembuat kembang api yang disebut pyrotechnic. Hingga warna merah, hijau, dan biru pun menghiasi kembang api. Bubuk mesiu akhirnya berkembang lebih dari sekedar petasan, kembang api atau roket, bubuk mesiu. Melainkan juga menjadi senjata-senjata macam meriam, pistol atau senapan yang dari masa ke masa makin berkembang bentuknya.
Dalam buku Guns, Germs, and Steel (1997), Jared Diamond menjelaskan bagaimana komunitas yang memakai dan mengembangkan mesiu akan mampu mengalahkan kelompok yang kurang memakai mesiu, apalagi yang tidak sama sekali. Meski dianggap sebagai negeri pengembang awal dari bubuk mesiu, ketika era-era bubuk mesiu sudah jadi senjata api, Tiongkok justru kalah dari negara-negara barat dalam hal senjata api. Kita tahu Bangsa Tiongkok dikalahkan bangsa-bangsa barat dalam Perang Candu pada pertengahan abad XIX. Bubuk mesiu di Tiongkok kala itu masih sekadar jadi petasan dan kembang api. Orang-orang Tionghoa yang datang ke Indonesia memperkenalkannya kepada orang-orang Indonesia. Terutama ketika tahun baru Imlek. Di masa kolonial, orang-orang Belanda sering mengadakan pesta kembang api untuk meramaikan hati mereka di tanah koloni yang jauh dari Eropa. Ada kalanya pejabat-pejabat tinggi VOC Belanda mengadakan kemeriahan dengan “dengan dentuman meriam, dan malam hari diadakan perjamuan besar dengan percikan kembang api,” tulis Mona Lohanda dalam Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia (2007). Ketika Ratu Wilhemina berkuasa sebagai Ratu Belanda sejak 23 November 1890 hingga 4 September 1948, tanggal lahirnya yang jatuh setiap 31 Agustus menjadi hari besar juga di Hindia Belanda alias Indonesia zaman itu. Rakyat pribumi yang jadi jajahan Belanda dihibur dengan kembang api. Henri Constant Claude Clockener Brousson, eks serdadu Hindia Belanda, dalam bukunya Batavia Awal Abad 20 (2007), menulis :
“Pada 31 Agustus malam dilenterai kembang api dan ribuan penduduk dari sekitar daerah ini berdatangan...” 

0 komentar:

Post a Comment