Macam – Macam Aliran Dalam Kriminologi

Macam – Macam Aliran Dalam Kriminologi

A.    Aliran Pemikiran Kriminologi.
Kriminologi adalah ilmu yang mempelajari kejahatan sebgaai fenomena sosial ataufenomena manusia, maka kriminologi berinduk pada filsafat antropologi. Aliran pemikiran di sini adalah cara pandang (kerangka acuan, paradigma, perspektif) yang digunakan kriminologi dalam memandang, menafsirkan dan menanggapi serta menjelaskan fenomena kejahatan.
Aliran - aliran dalam kriminologi menunjuk kepada proses perkembangan pemikiran dasar, konsep - konsep tentang kejahatan dan pelakunya.
1.      Aliran Klasik.
Aliran klasik yang dilahirkan oleh seorang filsuf Inggris, Jeremy Bentam 1748-1832 hampir seluruhnya terpisah dari dogma teologia, semua berkembang di Inggris pada pertengahan abad XIX, kemudia menyebar ke Eropa dan Amerika. Aliran ini mendasarkan ajarannya pada hedonistic psycology. Dalam filsafat, hedonisme adalah aliran yang mendambakan bahwa kebahagiaan adalah faktor utama dalam kehidupan manusia. Aliran ini mendasarkan pandangan bahwa inteligensi dan rasionalitas merupakan ciri fundamental manusia dan menjadi dasar bagi penjelasan perilaku manusia, baik sebagai individu maupun kelompok.
2.      Aliran Neo Klasik.
Aliran Neo Klasik dokrin dasarnya tetap, yakni intelegensi dan rasionalitas merupakan ciri fundamental manusia. Manusia adalah makhluk yang mempunyai rasio yang berkehendak bebas dan bertanggungjawab atas tindakan-indakannya, serta dapat  dikontrol oleh rasa ketakutannya terhadap hukuman.
Ciri-ciri Aliran Neo Klasik adalah :
a.      Adanya dokrin kehendak bebas.
b.      Pengakuan dari sahnya keadaan yang memperlunak.
c.       Perubahan dokrin tanggung jawab sempurna untuk memungkinkan pelunakan hukuman menjadi tanggung jawab sebagian saja.
d.      Dimasukkannya kesaksian dan atau keterangan ahli dalam acara pengadilan untuk menentukan besarnya tanggung jawab.
3.      Aliran Positivisme.
Dasar aliran positivisme adalah konsep tentang sejumlah penyebab kejahatan, yakni faktor alami atau yang dibawa manusia dan dunianya yang sebagian sifat biologis dan sebagian karena pengaruh lingkungan.
a.       Determinis Biologis menganggap bahwa organisasi sosial berkembang sebagai hasil dari individu dan perilakunya dipahami dan diterima sebagai  pencerminan umum dari warisan biologis.
b.      Determinis Kultural menganggap bahwa perilaku manusia dalam segala aspeknya selalu berkaitan dan mencerminakan nilai-nilai dunia sosio kultural yang melingkupinya.
Aliran ini terdiri dari beberapa aliran yaitu :
a.      Aliran Carthografic.
Aliran ini didasarkan pada distribusi kejahatan dalam ;ingkungan tertentu pada wilayah-wilayah geografis dan sosiologis dan segala kejahatan sebagai ekspresi kondisi sosial tertentu.
b.      Aliran Sosialis.
Aliran ini didasarkan bahwa kriminalitas adalah konsekuensi dari masyarakat kapitalis akibat sistem ekonomi yang diwarnai penindasan terhadap buruh, sehingga menciptakan faktor-faktor yang mendorong berbagai penyimpangan termasuk kejahatan.
c.       Aliran Tipologis.
Aliran ini menjelaskan bahwa kecenderungan berbuat jahat mungkin karena keturuna atau meiliki kepribadian yang unik ataupun merupakan ekspresi dari sifat-sifat kepribadian dan keadaan sosial maupun proses-proses lain yang menyebabkan adanya potensi pada orang tertentu.
Dalam Aliran Tipologis terbagi lagi beberapa kelompok aliran yaitu :
1.      Lambrosian.
Aliran ini menjelaskan bahwa penjahat itu bentuk fisiknya berlainan dengan bukan penjahat, dipengaruhi hasil penelitian dokter Goring yang menggap memang penjahat memiliki ciri-ciri khusus.
2.      Mental Testers.
Aliran ini menjelaskan bahwa kejahatan terjadi karen atipologi pisik, kelemahan phisik/otak/ rohani sebagai penyebab timbulnya kejahatan.
3.      Aliran Psikhiatris (gangguan kejiwaan).
Menurut pandangan aliran ini bahwa gangguan kejiwaan merupakan faktor penyebab kejahatan di sampaing gangguan emosional maupun psikhopatologis (gejala mental yang patologis).
d.      Aliran Sosiologis.
Menurut aliran ini kejahatan atau tindak jahat merupakan hasil dari proses perilaku di dalam masyarakat.
4.      Aliran Kritis.
Kriminologi kritis mempelajari proses-proses dimana kumpulan tertentu dari orang-orang dan tindakan-tindakan ditunjuk sebagai kriminal pada waktu dan tempat tertentu.
Aliran ini dibagi menjadi 2 yaitu :
a.      Aliran Interaksionis.
Dasar aliran interaksionis bersumber pada symbolic interactionism  yang diajarkan oleh Mead 1863-1931 yang menekankan bahwa manusia adalah pencipta dan sekaligus sebagai produk dari lingkungannya. Perilaku manusia tidak hanya ditentukan oleh peranan kondisi-kondisi sosial, akan tetapi juga peranan individu yang menafsirkan dan menangani dalam berinteraksi dengan kondisi-kondisi sosial yang bersangkutan.
b.      Aliran Konflik.
Dasar pemikiran dari aliran ini adalah kekuasaan yang dimiliki dalam perbuatan dan bekerjanya hukum. kekuatan sebagai kebalikan dari kejahatan.
B.     Pendekatan Pemikiran Kriminologi Menurut Pembagian Ruth Shonle Cavan.
Ruth Shonle Cavan mengatakan pembagian pendekatan kriminologi yang berbeda dengan aliran-aliran yang disebutkan di atas. Ruth Shonle Cavan menggunakan cara pemikirannya yang berbeda untuk memperoleh pengertian sebab musabah terjadinya kejahatan. Ruth Shonle Cavan menuangkn teori-teorinya menjadi 4 (empat) kelompok yakni, sosiologis, biologis, phisik, psikholohis - psikhoanalis.
Empat kelompok tersebut dijabarkan menjadi 6 (enam) pendekatan, yaitu :
1.      Pendekatan Sosiologis.
Pendekatan sosiologis dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu pendekatan sosiologis dan pendekatan sosiologis modern. Adalah Quetelet dan Guerry yang dipandangnya sebagai tokoh pendekatan sosiologis dalam mempelajari sebab musabab kejahatan. Analisis dari pendekatan ini didasarkan pada statistik sebagai data utama dengan menghubungkan wilayah-wilayah terjadinya kejahatanyang dikaitkan dengan unsur - unsur sosial lainnnya. Adapun unsur - unsur sosial yang dimaksud adlaah keadaan perekonomian, dan industri, perundang-undangan dengan faktor sex dan usia.
2.      Pendekatan Biologis dan Phisik.
menurut pendekatan ini mengarahkan perhatiannya pada kelainan-kelainan mental. kelainan mental sebagai keturunan dan penyimpangan dari perilaku normal bukanlah bentuk atavistis namun lebih menonjolkam pada kemorosotan akhlak.
3.      Pendekatan Psikhologis.
Goddard menuangkan ajarannya dengan menyimpulkan bahwa unsur keturan sebagai faktor yang menentukan kehidupan dan perilaku manusia.
4.      Pendekatan Lain.
Baik pendekatan biologis (phisik) maupun pendekatan psikhologis nampaknya kurang memuaskan dalam memberikan penjelasan faktor utama penyebab kejahatan, bahkan menimbulkan pertentangan dan perbedaan pendapat.  Waktu perkembangannya endocrinology  (cabang ilmu yang mempelajari struktur, fungsi dan gangguan-gangguan kelenjar) menentukan bahwa gangguan kelenjar dapat menimbulkan emosional, bahkan dapat mempengaruhi beberapa sikap dan perilaku.
5.      Pendekatan Psikhologis - Psikhoanalitis.
Healy menyimpulkan  bahwa keturunan maupun tanda-tanda fisik tidak berkaitan langsung dengan kejahatan. Penjahat bukanlah kelompok ataupun golongan tersendiri, namun manusia biasa yang terlibat kejahatan akibat kondisi mental tertentu.
C.    Perspektif Kriminologi.
1.      Perspektif Konvensional.
Beberapa ciri perspektif konvensional yang menonjol :
a.      Perhatiannya tertuju pada pelaku penyimpangan atau pelaku kejahatan.
b.      Kriteria menyimpang atau tidaknya suatu tindakan ditentukan oleh nilai-nilai dan norma-norma yang dipandang sebagai kewibawaan.
c.       Pandangan bahwa perilaku menyimpanh sebagai proses sosial terjadi atas pengaruh-pengaruh lingkungan sosial tertentu baik lewat proses belajar maupun sebagai hasil reaksi sosial yang berakibat dapat berbentuk keadaan yang mendatangkan tindakan kejahatan atau penyimpangan.
d.      Usaha pengendalian atas perilaku menyimpang, penting untuk memulihkan kepatuhan atas nilai-nilai dan norma-norma.
e.        Hukum dianggap datang kemudia (belakangan) daripada tindakan jahat atau menyimpang untuk mencegah dan melindungi masyarakat dari tindakan tersebut. Anggapan demikian pun diterima tanpa kritik.
2.      Perpektif Kritis.
Beberapa ciri perspektif kritis yaitu :
a.      Perhatiannya ditujukan pada akibat-akibat atau reaksi-reaksi sosial dari penyimpangan perilaku dalam masyarakat.
b.      Ukuran penyimpangan atau tidaknya suatu tindakan ditentukan bukan oleh nilai-nilai atau norma-norma yang dianggap sah oleh mereka yang menduduki pada posisi kekuasaan atau keiwbawaan, namun oleh besar kecilnya kerugian atau penderitaan sosial yang ditimbulkan oleh tindakan tersebut dan dikaji dalam konteks ketidakmerataan kekuasaan dan kesejahteraan dalam masyarakat.
c.       Perilaku menyimpang sebagai proses sosial dianggap terjadi sebagai reaksi terhadap kehidupan kelas atas dan ketidak merataan keadilan dan ekonomi.
d.      Usaha pengendalian sosial diletakkan dalam kerangka mengurangi ketidakadilan struktural, menjangkau ke lubuk kepentingan orang banyak.
e.       Kebijakan kriminal sebagai bagian dari kebijakan sosial yatiu pembangunan nasional sehingga wawasan kriminologi semakin luas dan jelas sasarannya.


0 komentar:

Post a Comment