Ekonomi Indonesia Era Kolonial Belanda

Ekonomi Indonesia Era Kolonial Belanda 

A.    Pendahuluan.
“Hindia adalah gabus yang di atasnya Belanda mengapung.” J.C. Baud, Gubernur Jendral Hindia Belanda (1834-1836).
Gema pernyataan J.C. Baud di atas terus berdengung hingga seabad setelah ia berkuasa. Pernyataan tersebut diucapkan saat Tanam Paksa baru saja diberlakukan dan negeri Belanda berhasil menambal defisit keuangan akibat Perang Jawa. Pernyataan yang benar-benar memperlihatkan ketergantungan ekonomi Belanda kepada tanah jajahan yang dijuluki “Dee Gordel van Smaragd” (zamrud khatulistiwa) itu. Ketika zaman berubah dengan pemberlakuan politik etis dan liberalisme ekonomi, sifat ketergantungan tersebut tidak ikut berubah. Belanda malah makin bergantung kepada Hindia.
Memasuki abad 20, Belanda, kerajaan kecil yang dikelilingi imperium-imperium besar Eropa, seperti menemukan harga dirinya di hadapan bangsa - bangsa lain dengan menjadi tuan di sebuah negeri kepulauan yang bentangannya setara jarak Moskow - London.
B.     Masa Kemakmuran yang Singkat dan Depresi Ekonomi.
Awal abad 20 ditandai kemakmuran yang makin meningkat di Hindia. Ini berbarengan dengan program politik etis yang membuka jalan bagi kaum pribumi memperoleh pendidikan layak. Gabungan antara meningkatnya kemakmuran dan politik etis membuat taraf kehidupan masyarakat naik, tanpa ada preseden sebelumnya dalam sejarah kolonialisme Belanda di Hindia. Angka-angka statistik ekonomi dari awal abad 20 dalam hal pendapatan pemerintah melonjak drastis dibanding masa sebelumnya.
Seperti ditunjukkan dalam Sejarah Statistik Ekonomi Indonesia suntingan Pieter Creutzberg dan J.T.M. van Laanen (1987), dari rata - rata 125 juta gulden tiap tahun pada dasawarsa terakhir abad 19, melonjak jadi 700 jutaan pada dekade 1920-an. Ini hampir enam kali lipat dalam kurun tiga puluh tahun saja. Negara-negara kolonial lain bisa dipastikan iri bukan kepalang. Pada periode tersebut, rata-rata 10 persen dari pendapatan bersih Hindia masuk ke kantong Kerajaan Belanda atau menyumbang 8 persen dari total Produk Domestik Neto. Data ini didapat melalui perhitungan yang dilakukan Angus Maddison dalam Sejarah Ekonomi Indonesia (1988).
Kenaikan pendapatan terutama dari meningkatnya hasil tanaman ekspor di perkebunan-perkebunan luar Jawa. Dengan pendapatan sebesar itu, Belanda secara langsung mendapat cipratan dari meningkatnya kemakmuran Hindia. Ekspor laris, Belanda makmur. Tapi periode kemakmuran hanya berlangsung singkat.
Pada akhir dekade 1920 - an, kecenderungan kenaikan pendapatan tiba - tiba menurun akibat krisis ekonomi 1929 (lebih dikenal Malaise’) dan tak mampu mencapai titik pendapatan seperti sediakala sampai Belanda angkat kaki dari Indonesia.
Data dari Creutzberg dan van Laanen memang menunjukkan penurunan tajam: pendapatan bersih Hindia Belanda pada masa krisis terpangkas hampir separuh dari rata-rata 700 juta pada 1920-an menjadi sekitar 400 juta. Hindia Belanda mengalami pukulan telak karena andalan ekspornya, yaitu produk minyak bumi dan pertanian, terhambat masuk ke Eropa dan Amerika Utara gara - gara kebijakan proteksi sekaligus mengalami penurunan harga signifikan. Sebelum krisis, sebanyak 52 persen produk minyak bumi dan pertanian diekspor ke sana dan menurun menjadi hanya sepertiga pada pertengahan 1930 - an. Krisis diikuti depresi ekonomi panjang yang disebabkan pemerintah bersikukuh menolak devaluasi Gulden meski negara-negara lain sudah melakukannya dan meninggalkan standar emas. Kekuatan Malaise dalam melemahkan sektor-sektor usaha sungguh dahsyat. Tak terhitung jumlah wiraswasta gulung tikar dan para petani mengalami kebangkrutan. Salah satu akibat yang paling memukul adalah meningkatnya apatisme dan ketidakpercayaan rakyat kepada pemerintah.
Dengan kontribusi ekonomi yang signifikan, ketergantungan Belanda kepada Hindia pada saat krisis mencapai titik kulminasi yang semakin tinggi. Belanda kian gencar mengeskploitasi Hindia lantaran sumber - sumber pendapatan dari dalam negeri dianggap tidak lagi mencukupi untuk menanggulangi badai krisis ekonomi. Pendapatan dari tanah jajahan lain pun hanya recehan dibanding Hindia. Langkah yang diambil Belanda adalah mengintensifkan hasil pertanian dan perkebunan dari daerah luar Jawa. Sebab, saat itu, selain karena krisis ekonomi, Jawa sudah mengalami masa kejenuhan pertanian akibat proses eksploitasi yang sangat lama. 
Di luar Jawa, sebagaimana dicatat Anne Booth dalam Sejarah Ekonomi Indonesia,
“Produksi Hasil Tanaman dagang para petani kecil tumbuh dengan pesat.”
Barang-barang konsumsi yang diimpor pun merupakan perangsang bagi petani untuk lebih giat mencari nafkah dengan menanam tanaman komoditas ekspor. (hlm. 393). Di sini terlihat, meski pendapatan dari tanah jajahan menurun lantaran krisis, Belanda masih terselamatkan dengan tanaman komoditas dari luar Jawa. Maka, apabila kelak Hindia tiba-tiba lepas dari genggaman, terbayang pahitnya situasi yang akan dialami Belanda. Sampai saat itu, sudah tiga abad Belanda dimanjakan oleh rezeki yang datang dari Hindia. Itu artinya, selama tujuh generasi, orang-orang di negeri Belanda menikmati secara langsung kemakmuran yang ditopang tanah jajahannya. Bayangkan, tujuh generasi. Mereka tidak punya imajinasi yang cukup untuk membayangkan apa yang terjadi jika Hindia benar-benar merdeka. Dan di saat genting seperti itu, Belanda justru menunjukkan sikap pongah dan kian percaya diri jika mereka bakal terus berkuasa di Hindia sampai akhir zaman.
Pernyataan Gubernur Jenderal de Jonge pada 1935, yang kemudian menjadi sangat terkenal, bahwa “Kami akan berada di sini 300 tahun lagi, bila perlu dengan tongkat dan senjata” bisa dipakai sebagai representasi pendapat umum masyarakat Belanda saat itu. Tapi itu sebenarnya hanya ilusi yang mereka ciptakan sendiri untuk menutupi perasaan cemas akan bahaya laten yang menghadang di depan mata: lepasnya Hindia. Ada perasaan tidak siap. Ada perasaan posesif yang tak dapat diterangkan. Dan kecemasan itu kian bertambah ketika eksistensi negara kolonial makin berguncang akibat desakan kaum pergerakan.
C.     Kaum Pergerakan Menambah Cemas.
Meski dua dasawarsa terakhir kekuasaan Belanda diwarnai surutnya pergerakan kaum nasionalis akibat represi dan kebijakan konservatif gubernur jenderal, semangat dekolonisasi di kalangan rakyat Indonesia tak pernah benar-benar padam. Periode ini disebut sejarawan Merle C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 sebagai “Tahapan yang paling Menindas dan paling Konservatif” dalam sejarah Belanda di Indonesia abad 20 (hlm. 388).
Belanda memang berhasil “menjinakkan” para pentolan pergerakan nasional dengan menjebloskan mereka ke penjara atau membuangnya ke luar Jawa. Tapi, yang diabaikan oleh Belanda adalah tiga puluh tahun pergerakan nasional telah menghilangkan kepercayaan para aktivis nasionalis terhadap pemerintah kolonial. Sehingga satu-satunya jalan yang paling mungkin bagi mereka adalah melawan Belanda. 
Di samping itu, di tengah perpecahan yang melanda, para elite tetap bergerak dengan sadar dan mentaati konsensus bahwa tujuan politik paling utama dari perjuangan mereka adalah Indonesia merdeka. Pemerintah kolonial bukannya tak memahami gejala ini, tetapi langkah-langkah yang diambil justru makin mengesankan mereka tak punya formula ideal untuk menanganinya. Penangkapan-penangkapan terhadap para aktivis memang bisa menyelesaikan persoalan rumit, tapi ini hanya berlaku sesaat. Suara perlawanan dari jalur resmi Volksraad justru semakin lantang dan menciptakan solidaritas tersendiri di kalangan aktivis, baik yang kooperatif maupun non-kooperatif. Ini sebuah pemandangan yang langka dalam tiga dekade pergerakan nasional. Kelak, pada saat Belanda datang lagi pada 1945, hal inilah yang membuat mereka kompak menentangnya.
Belanda juga bersikap keras kepala menghadapi tuntutan paling minimum dari para aktivis tentang “Indonesia Berparlemen” pada 1940. Tuntutan ini terutama datang dari Gabungan Politik Indonesia (GAPI) dan beberapa anggota Volksraad seperti M.H. Thamrin dan Sutarjo.  Pemerintah kolonial tegas menolak tuntutan tersebut dan menyatakan, dalam keadaan negeri Belanda diduduki oleh Jerman, parlemen Belanda tidak berfungsi dan tidak mempunyai wewenang untuk menentukan nasib Indonesia. Selain itu, pemerintah Belanda ingin mengesankan kepada rakyatnya bahwa mereka tidak akan “menjual” Hindia dalam suasana perang yang sukar itu.
“Bagi pemerintah, Kerajaan Belanda dalam segala bagian - bagiannya harus dipertahankan sampai akhir peperangan,” tegas sejarawan Ong Hok Ham dalam Runtuhnya Hindia Belanda (hlm. 134).
Kegagalan pemerintah kolonial menangkap dinamika sejati dari pergerakan nasional merupakan salah satu wujud paling subtil dari kecemasan-kecemasan itu. Konsesi - konsesi yang ditawarkan kepada Indonesia pada “menit-menit akhir” kekuasaan Belanda menjadi percuma karena para elite pergerakan sudah kehabisan kepercayaan dan menganggapnya sebagai basa-basi belaka. Terlihat jelas bahwa yang paling menonjol dari sikap Belanda di masa-masa akhir itu adalah kegagapan. Bahkan kebebalan. Di negeri Belanda sendiri, orang-orang cenderung memandang sinis aktivitas kaum pergerakan. Kaum konservatif menganggap mereka sebagai kaum yang tidak tahu diuntung karena mereka “Menjadi Manusia Utuh” berkat kebaikan Belanda—pandangan yang berakar dari rasialisme kolonial sejak abad 17 yang menganggap orang pribumi sebagai setengah manusia. 

Kisah Minke dalam tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer bisa dijadikan ilustrasi yang bagus. ‘Minke’, yang berasosiasi dengan ‘monkey’ (monyet), adalah julukan yang diberikan oleh Magda Peters, guru sekolahnya, kepada tokoh utama dalam novel tersebut. Julukan tersebut jelas merendahkan dan menjadi gambaran bagaimana orang-orang Belanda memandang kaum pribumi. Sinisme dan rasialisme itu juga sesungguhnya kecemasan dalam bentuk lain: orang-orang Belanda sebenarnya sedang menikmati “zona nyaman” sebagai kolonialis yang menganggap diri baik hati dan aspirasi para aktivis mengusik kenyamanan tersebut. Pelbagai kegagalan dalam menyikapi aspirasi yang berkembang itu membuat Belanda semakin kepayahan mempertahankan kekuasaan. Ditambah faktor Perang Dunia II dan kelengahan mengantisipasi agresivitas Jepang, negara Hindia Belanda akhirnya runtuh pada 1942. Maka, puncak dari kecemasan yang melanda orang-orang Belanda telah tiba  ketika mereka mesti mengucapkan selamat tinggal kepada tanah Hindia. Dalam siaran pamungkas radio NIROM, tepat malam hari setelah Belanda menyerah kepada Jepang, sang penyiar mengucapkan salam terakhir dengan nada penuh kegetiran : “Vaarwel, tot Bettere Tijden” (Selamat tinggal, sampai jumpa di waktu yang lebih baik).  

Jadwal Lengkap Piala Presiden 2018

Jadwal Lengkap Piala Presiden 2018 

A.    Babak Penyisihan.
1.      Grup  A : Persib Bandung, Sriwijaya FC, PSMS Medan, PSM Makassar
a.      Tempat Pertandingan : Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung.
b.      16 Januari 2018: Persib Bandung vs Sriwijaya FC (pukul 15.30 WIB).
c.       16 Januari 2018: PSM Makassar vs PSMS Medan (pukul 19.30 WIB).
d.      21 Januari 2018: Sriwijaya FC vs PSM Makassar (pukul 15.30 WIB).
e.       21 Januari 2018: PSMS Medan vs Persib Bandung (pukul 19.30 WIB).
f.       26 Januari 2018: PSMS Medan vs Sriwijaya FC (pukul 15.30 WIB).
g.      26 Januari 2018: Persib Bandung vs PSM Makassar (pukul 19.30 WIB).
2.      Grup B : Mitra Kukar, Persipura Jayapura, Martapura FC, Barito Putera.
a.      Tempat Pertandingan : Stadion Batakan, Balikpapan.
b.      17 Januari 2018: Mitra Kukar vs Barito Putera (pukul 16.30 WITA).
c.       17 Januari 2018: Persipura Jayapura vs Martapura FC (pukul 20.30 WITA).
d.      22 Januari 2018: Barito Putera vs Persipura Jayapura(pukul 16.30 WITA).
e.       22 Januari 2018: Martapura FC vs Mitra Kukar (pukul 20.30 WITA).
f.       27 Januari 2018: Mitra Kukar vs Persipura Jayapura (pukul 16.30 WITA).
g.      27 Januari 2018: Martapura FC vs Barito Putera (pukul 20.30 WITA).
3.      Grup C : Persebaya Surabaya, Madura United, Perseru Serui, PS TNI.
a.      Tempat Pertandingan : Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya.
b.      18 Januari 2018: Persebaya Surabaya vs PS TNI (pukul 15.30 WIB).
c.       18 Januari 2018: Madura United vs Perseru Serui (pukul 19.30 WIB).
d.      23 Januari 2018: PS TNI vs Madura United (pukul 15.30 WIB).
e.       23 Januari 2018: Perseru Serui vs Persebaya Surabaya (pukul 19.30 WIB).
f.       28 Januari 2018: Persebaya Surabaya vs Madura United (pukul 15.30 WIB).
g.      28 Januari 2018: Perseru Serui vs PS TNI (pukul 19.30 WIB).
4.      Grup D : Bali United, Persija Jakarta, PSPS Riau, Borneo FC.
a.       Tempat Pertandingan : Stadion I Wayan Dipta, Gianyar.
b.      19 Januari 2018: Bali United vs Borneo FC (pukul 16.30 WITA).
c.       19 Januari 2018: Persija Jakarta vs PSPS Riau (pukul 20.30 WITA).
d.      24 Januari 2018: PSPS Riau vs Bali United (pukul 16.30 WITA).
e.       24 Januari 2018: Borneo FC vs Persija Jakarta (pukul 20.30 WITA).
f.       29 Januari 2018: PSPS Riau vs Borneo FC (pukul 16.30 WITA).
g.      29 Januari 2018: Bali United vs Persija Jakarta (pukul 20.30 WITA).
5.      Grup E : Arema FC, Bhayangkara FC, PSIS Semarang, Persela Lamongan.
a.      Tempat Pertandingan : Stadion Kanjuruhan, Malang.
b.      20 Januari 2018: Bhayangkara FC vs PSIS Semarang.
c.       20 Januari 2018: Arema FC vs Persela Lamongan.
d.      25 Januari 2018: Persela Lamongan vs Bhayangkara FC.
e.       25 Januari 2018: PSIS Semarang vs Arema FC.
f.       30 Januari 2018: PSIS Semarang vs Persela Lamongan.
g.      30 Januari 2018: Arema FC vs Bhayangkara FC.
B.     Babak Perempat final.
1.      Tempat Pertandingan : Stadion Manahan, Solo.
2.      3 Februari 2018: Perempat final 1 (pukul 15.30 WIB).
3.      3 Februari 2018: Perempat final 2 (pukul 19.30 WIB).
4.      4 Februari 2018: Perempat final 3 (pukul 15.30 WIB).
5.      4 Februari 2018: Perempat final 4 (pukul 19.30 WIB).
C.    Babak Semifinal.
1.      Tempat Pertandingan : Digelar dengan sistem kandang & tandang. 
2.      10 Februari 2018: Leg pertama semifinal 1 (pukul 18.00 WIB).
3.      10 Februari 2018: Leg pertama semifinal 2 (pukul 20.30 WIB).
4.      13 Februari 2018: Leg kedua semifinal 1 (pukul 18.00 WIB).
5.      13 Februari 2018: Leg kedua semifinal 2 (pukul 20.30 WIB).
D.    Final dan Perebutan peringkat ketiga.
1.      Tempat Pertandingan : Stadion Utama Gelora Bung Karno .
2.      17 Februari 2018 : Perebutan peringkat tiga (pukul 15.30 WIB).

3.      17 Februari 2018: Final (pukul 19.00 WIB)

Penyakit Malaria : Penyebab, Gejala, Pengobatan dan Pencegahannya

Penyakit Malaria : Penyebab, Gejala, Pengobatan dan Pencegahannya 

A.    Pengertian Malaria.
Malaria adalah penyakit yang menyebar melalui gigitan nyamuk yang sudah terinfeksi parasit. Infeksi malaria bisa terjadi hanya dengan satu gigitan nyamuk. Jika tidak ditangani dengan benar, penyakit ini bisa menyebabkan kematian. Malaria jarang sekali menular secara langusng dari satu orang ke orang lainnya. Penyakit ini bisa menular jika terjadi kontak langsung dengan darah penderita. Janin di dalam kandungan juga bisa terinfeksi malaria karena tertular dari darah sang ibu.
B.     Penderita Malaria di Indonesia.
Indonesia bersama negara-negara lain di seluruh dunia bergabung dalam sebuah komitmen global yakni Millenium Development Goals (MDGs) untuk memberantas sejumlah penyakit, salah satunya malaria. Angka kejadian malaria pada suatu wilayah ditentukan dengan Annual Parasite Incidence (API) per tahun. API sendiri merupakan jumlah kasus positif malaria per 1.000 penduduk setiap tahunnya. Program MDGs ini terus menunjukkan keberhasilan, yang ditunjukkan dengan API malaria di Indonesia yang terus mengalami penurunan sejak 2011 hingga 2015.
Pada tahun 2011, terdapat 1.75 kasus malaria per 1.000 penduduk, sedangkan pada tahun 2015, angka menurun menjadi 0.85 kasus malaria per 1.000 penduduk. Meskipun telah mengalami penurunan yang cukup signifikan, Indonesia masih belum bebas dari malaria, terutama di Indonesia bagian Timur. Wilayah seperti Papua, NTT, Maluku, dan Bengkulu merupakan penyumbang terbanyak angka kejadian malaria di Indonesia.
C.    Gejala Malaria.
Gejala malaria biasanya akan muncul antara satu sampai dua minggu setelah tubuh terinfeksi. Gejala juga bisa muncul setahun setelah gigitan nyamuk, namun kasus ini jarang terjadi. Gejala-gejala malaria umumnya terdiri dari demam, berkeringat, menggigil atau kedinginan, muntah-muntah, sakit kepala, diare, dan nyeri otot. Gejala malaria akan muncul jika Anda digigit oleh nyamuk yang sudah terinfeksi oleh parasit Plasmodium. Masa inkubasi atau waktu antara gigitan nyamuk malaria dan dimulainya gejala tergantung kepada jenis parasit yang menginfeksi. Masa inkubasi Plasmodium falciparum adalah sekitar 1-2 minggu, sedangkan untuk Plasmodium vivax adalah 2-3 minggu. Kedua jenis parasit inilah penyebab malaria paling umum di Indonesia.
Gejala - gejala awal dari malaria adalah: Demam tinggi. Sakit kepala. Berkeringat dingin. Mual dan muntah-muntah. Nyeri otot. Diare. Anemia. Kejang. Tinja berdarah.
Pada masa - masa inkubasi awal, gejala malaria seperti demam dan nyeri kepala seringkali hanya bersifat ringan dan sering disalahartikan dengan penyakit umum lainnya. Namun, hal ini bisa menjadi berbahaya apabila jenis parasit yang menggigit Anda adalah Plasmodium falciparum. Jenis parasit ini paling berbahaya dan dapat menyebabkan kondisi yang serius atau bahkan mengancam nyawa apabila tidak segera ditangani dalam waktu 24 jam. Maka dari itu, segera temui dokter jika muncul malaria dicurigai, terutama apabila Anda sedang atau telah bepergian ke daerah endemis malaria di Indonesia agar pengobatan bisa segera dimulai.  Jika Anda sudah terlanjur mengalami gejala-gejala malaria, segera temui dokter agar bisa dilakukan diagnosis dan penanganan secepatnya. Malaria dapat didiagnosis dengan mudah melalui tes darah yang sederhana.
D.    Parasit Penyebab Malaria.
Malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium. Sebetulnya ada banyak jenis parasit Plasmodium, tapi hanya lima jenis yang menyebabkan malaria pada manusia. Parasit Plasmodium hanya disebarkan oleh nyamuk Anopheles betina.
Dua jenis parasit yang umum di Indonesia adalah Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax. Gigitan nyamuk malaria lebih sering terjadi pada malam hari. Setelah terjadinya gigitan, parasit akan masuk ke dalam aliran darah. Penyebaran penyakit malaria juga bisa terjadi melalui transfusi darah atau melalui pemakaian jarum suntik secara bergantian. Meski kasus ini jarang sekali terjadi, Anda tetap harus berhati-hati.  Malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium yang hanya disebarkan oleh nyamuk Anopheles betina.
Ada banyak sekali jenis parasit Plasmodium, tapi hanya lima jenis yang menyebabkan malaria pada manusia. Parasit masuk ke dalam aliran darah manusia melalui gigitan nyamuk. Gigitan ini lebih sering terjadi pada malam hari. Kasus malaria yang paling banyak ditemukan di Indonesia disebabkan oleh Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax. Kedua jenis parasit ini adalah penyebab malaria yang paling umum. Plasmodium falciparum merupakan parasit yang sangat menyebabkan sebagian besar penderita malaria meninggal dunia. Plasmodium vivax bisa mengakibatkan penderita yang telah sembuh menjadi sakit lagi karena parasit ini dapat diam dan bersembunyi di dalam organ hati manusia sebelum menjadi aktif lagi.
Tiga parasit yang lainnya adalah Plasmodium ovale, Plasmodium malariae, dan Plasmodium knowlesi. Ketiga parasit ini adalah jenis yang jarang ditemui kejadiannya di Indonesia.
Waktu kemunculan gejala dari gigitan nyamuk atau masa inkubasi adalah :
1.      7 hingga 14 hari pada malaria akibat Plasmodium falciparum.
2.      12 hingga 18 hari pada malaria akibat Plasmodium vivax.
3.      Setelah terjadi gigitan nyamuk, parasit akan masuk ke aliran darah dan bergerak ke organ hati. Infeksi akan terjadi dan berkembang di organ hati. Dari situ, parasit akan masuk kembali ke aliran darah dan menyerang sel darah merah. Parasit akan memanfaatkan sel darah merah sebagai tempat berkembang biak.
4.      Jika sel darah merah sudah penuh terisi dengan parasit malaria, sel tersebut akan meletus sehingga lebih banyak lagi parasit yang tersebar di dalam aliran darah. Sel darah merah yang terinfeksi meletus tiap dua hingga tiga hari. Ketika ini terjadi, penderita akan mengalami gejala seperti demam, menggigil, dan berkeringat.
Karena parasit yang menyebabkan malaria turut mempengaruhi sel darah merah, orang yang memiliki infeksi darah juga bisa terserang malaria. Meski kasus ini jarang terjadi, beberapa proses berikut bisa menularkan infeksi malaria :
1.      Dari ibu hamil yang terkena malaria ke janin yang dikandungnya.
2.      Proses transfusi darah.
3.      Berbagi jarum suntik dengan penderita malaria.
4.      Ketika berada di daerah endemik malaria, pendatang lebih rentan terserang malaria.
Sistem kekebalan tubuh mereka tidak sebaik penduduk daerah endemik malaria dalam melawan parasit. Oleh karena itu, Anda disarankan untuk mengonsumsi obat antimalaria jika ingin bepergian ke daerah endemik malaria.
E.     Diagnosis Malaria.
Selain memerhatikan gejala penderita dan melakukan pemeriksaan fisik, dokter juga mendiagnosis malaria berdasarkan tes diagnostik cepat (rapid diagnostic test/RDT). Tes RDT memeriksa keberadaan dan jenis parasit yang menyebabkan malaria. Sampel darah pasien akan di ambil untuk tes ini. Biasanya, hasil tes ini bisa didapatkan dalam 15-20 menit. RDT bisa memastikan apakah jenis parasit yang ada di dalam darah itu adalah Plasmodium falciparum atau jenis lain. Hasil tersebut akan sangat membantu dalam memilih kombinasi obat antimalaria mana yang paling sesuai. Selain tes RDT, malaria juga bisa didiagnosis dengan menggunakan mikroskopi. Cara ini adalah cara yang lebih konvensional. Sampel darah pasien akan diambil, kemudian dipelajari di bawah mikroskop. Tes mikroskopi ini bisa memastikan keberadaan dan jenis parasit yang menyebabkan malaria serta proporsi sel darah merah yang terinfeksi. Pemeriksaan darah juga bisa dilakukan untuk memeriksa apakah pasien menderita anemia. Anemia merupakan salah satu komplikasi yang bisa terjadi akibat malaria.
F.     Pengobatan Malaria.
Penderita malaria bisa sembuh total jika diobati dan dirawat dengan benar. Berbagai jenis obat-obatan antimalaria dipakai untuk mengobati sekaligus mencegah penularan malaria. Obat-obatan yang diberikan tergantung pada beberapa hal, yaitu tingkat keparahan gejala-gejalanya, jenis parasit yang menjadi penyebabnya, lokasi penularan malaria, serta kondisi pasien. Jika pasien sedang hamil, pengobatannya akan dibedakan dengan penderita yang sedang tidak hamil.  
Pemulihan secara sempurna bisa dilakukan jika malaria diobati dan dirawat dengan benar. Proses ini dilakukan langsung setelah diagnosis malaria diketahui. Obat antimalaria yang diberikan tergantung kepada: aJenis parasit yang menyebabkan malaria. bTingkat keparahan gejala yang dialami penderita. cDimana Anda terjangkit malaria. dApakah Anda menggunakan obat antimalarial. eApakah Anda sedang hamil. Beberapa jenis penyakit malaria terkadang resisten terhadap obat-obatan tertentu. Contohnya, obat antimalaria chloroquine terbukti tidak efektif dalam menangani kasus malaria di Indonesia karena jenis parasit di Indonesia telah kebal terhadap obat ini. Untuk masalah ini, kombinasi obat malaria akan disarankan oleh dokter. Jika malaria berada pada tingkat yang parah, obat akan diberikan melalui infus dan dilakukan di rumah sakit.
Untuk menangani malaria yang disebabkan oleh Plasmodium falciparum, WHO membuat suatu regimen terapi yang disebut dengan artemisin-based combination therapies (ACT), yakni :
1.      Kombinasi artemether  dan lumefantrine
2.      Kombinasi artesunate dan amodiaquine
3.      Kombinasi artesunate dan mefloquine
4.      Kombinasi dihydroartemisinin dan piperaquine
5.      Kombinasi artesunate + sulfadoxine + pyrimethamine.
Pengobatan ini harus diberikan setidaknya selama 3 hari. Sedangkan untuk malaria akibat Plasmodium vivax, pengobatan yang disarankan adalah dengan menggunakan golongan klorokuin pada daerah yang masih belum resisten klorokuin. Namun pada daerah yang telah resisten klorokuin, pengobatan yang disarankan adalah dengan ACT.
Obat - obatan Anti malaria pada Wanita Hamil.
Risiko terjadinya kasus malaria yang parah akan meningkat pada penderita yang sedang hamil. Bayi dan sang ibu bisa mengalami komplikasi yang serius. Beberapa obat-obatan antimalaria tidak cocok untuk wanita hamil karena potensi efek sampingnya baik bagi sang ibu maupun bayinya. Untuk tahu lebih banyak tentang jenis obat dan efek sampingnya, tanyakan kepada dokter kandungan dan dokter yang menangani malaria Anda. Mereka akan menjelaskan obat mana yang bisa dan tidak bisa dikonsumsi selama masa kehamilan.
G.    Komplikasi Malaria.
Penyakit malaria akan memiliki dampak lebih buruk jika terjadi pada wanita hamil, bayi, anak kecil, dan orang tua. Malaria berpotensi membuat ketahanan tubuh menurun secara drastis dalam waktu yang singkat. Karena itu, penanganannya perlu dilakukan dengan cepat. Jika malaria tidak segera ditangani sejak awal, penyakit ini bisa menimbulkan beberapa komplikasi seperti dehidrasi, anemia parah, gagalnya organ tubuh, dan beberapa kondisi lainnya. Malaria adalah penyakit yang berbahaya dan  bisa menyebabkan kematian jika tidak segera ditangani Penyakit ini juga bisa menimbulkan komplikasi. Pada kondisi malaria yang parah, komplikasi bisa muncul dalam dalam hitungan jam atau hari setelah gejala awal. Setelah hasil diagnosis dikeluarkan dan terbukti menderita malaria, penanganan sebaiknya dimulai secepatnya.
Beberapa komplikasi yang bisa terjadi akibat malaria adalah :
1.      Dehidrasi atau kekurangan cairan pada tubuh.
2.      Tekanan darah menurun secara tiba-tiba.
3.      Malaria Serebral: komplikasi ini cukup langka, tapi malaria bisa mengakibatkan pembengkakan pada Ini terjadi ketika sel darah yang dipenuhi parasit menghalangi pembuluh darah kecil di otak. Terkadang bisa menyebabkan kerusakan otak permanen, kejang-kejang, atau bahkan koma.
4.      Anemia parah: kerusakan sel darah merah yang disebabkan parasit malaria bisa mengakibatkan terjadinya anemia pada tingkat Anemia adalah kondisi di mana tubuh kekurangan sel darah merah yang berfungsi dengan baik dalam membawa oksigen ke organ-organ tubuh.
5.      Kegagalan fungsi organ tubuh: malaria bisa menyebabkan gagal ginjal, gagal hati atau pecahnya organ limpa. Semua kondisi ini bisa mengancam nyawa seseorang. fGangguan pernapasan: penumpukan cairan di dalam paru-paru atau edema paru bisa menyebabkan Anda kesulitan bernapas.
6.      Sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS).
7.      Hipoglikemia: malaria yang parah bisa menyebabkan hipoglikemia atau kondisi gula darah rendah. Obat antimalaria quinine, juga bisa akibatkan gula darah rendah. Gula darah yang sangat rendah bisa berakibat koma atau bahkan kematian. iJaundice atau penyakit kuning.
Komplikasi dari malaria bisa menyerang siapapun, termasuk ibu hamil. Jika Anda sedang hamil dan mengalami malaria, Anda berpotensi mengalami komplikasi serius seperti kelahiran prematur, pertumbuhan bayi di dalam kandungan terganggu, berat badan bayi di bawah normal, keguguran, dan yang paling parah menyebabkan kematian pada sang ibu dan bayi.
H.    Pencegahan Malaria.
Pada dasarnya, malaria bisa dihindari. Untuk mencegah penularan malaria, pemerintah Indonesia telah menjalankan berbagai program, misalnya tes darah massal dan memberikan obat antimalaria secara gratis di daerah endemik malaria seperti di wilayah perdesaan di Papua dan Nusa Tenggara. Menghindari diri dari gigitan nyamuk adalah cara yang paling penting untuk mencegah penularan malaria. Anda bisa memakai kelambu untuk menutupi ranjang saat tidur, menyingkirkan genangan air di sekitar rumah, memakai losion anti serangga, dan menggunakan pakaian atau selimut yang menutupi kulit tubuh.
Menghindari diri agar tidak tergigit nyamuk adalah cara terbaik agar tidak tertular malaria. Beberapa cara lain yang bisa dilakukan adalah :
1.      Memakai kelambu berinsektisida untuk menutupi ranjang.
2.      Menggunakan pakaian atau selimut yang bisa menutupi kulit tubuh.
3.      Membersihkan bak mandi dan menabur serbuk abate untuk membasmi jentik-jentik nyamuk.
4.      Menyingkirkan atau menutup genangan air yang berpotensi menjadi sarang jentik-jentik nyamuk.
5.      Memakai losion anti serangga. Losion yang paling efektif adalah yang mengandung DEET atau diethyltoluamide.
6.      Memakai obat nyamuk bakar atau semprot secara teratur.
7.      Melakukan fogging atau pengasapan secara teratur di lingkungan tempat tinggal.

Pemerintah menargetkan untuk membasmi malaria yang ada di Indonesia sepenuhnya sebelum tahun 2030. Di beberapa daerah di Indonesia dengan kasus malaria yang tinggi, telah diselenggarakan kampanye anti-malaria. Selain itu, pemerintah juga menyediakan tes darah massal untuk mendeteksi penderita malaria agar dapat diobati secepatnya. Dalam program ini, pemerintah membagikan obat antimalaria secara gratis. Jika Anda berencana untuk bepergian ke daerah di mana kasus malarianya tinggi, Anda bisa berjaga-jaga dengan mengonsumsi obat antimalaria sebagai langkah pencegahan. Orang yang tinggal di daerah  bebas malaria, sistem kekebalan mereka terhadap parasit malaria tidak sebagus orang yang tinggal di wilayah endemik malaria.