Teori Konflik Menurut 4 Sosiolog


Teori Konflik Menurut 4 Sosiolog

A.    Pengertian Teori Konflik.
Teori konflik adalah suatu prespektif didalam sosiologi yang memandang masyarakat sebagai satu sistem sosial yang terdiri dari bagian - bagian atau komponen - komponen yang mempunyai kepentingan yang berbeda - beda dimana komponen yang  satu berusaha untuk menaklukan komponen yang lain guna memenuhi kepentingannya atau memperoleh kepentingan yang sebesar - besarnya.
B.     Teori Konflik Menurut Para Ahli.
1.      Teori Konflik Karl Mark.
Menurut Karl Marx, hakekat social adalah konflik. Konflik adalah satu kenyataan social yang bisa ditemukan dimana-mana. Bagi Mark, konflik social adalah pertentangan antara segmen-segmen masyarakat untuk memperebutkan asset-aset yang bernilai.
Jenis dari konflik antara individu, konflik antara kelompok, dan bahkan konflik antar bangsa. Tetapi bentuk konflik yang paling menonjol menurut Marx adalah konflik yang disebabkan oleh cara produksi barang barang yang material.
2.      Teori Konflik Ralf Dahrendorf.
Teori konflik yang dikemukakan oleh Ralf Dahrendorf sering kali disebut dengan teori konflik dialektik. Bagi Dahrendorf masyarakat memiliki dua wajah, yakni konflik dan konsesus,
Misalnya si A denngan si B dalam kelas ini  tidak mungkin terlibat dalam konflik karena mereka tidak pernah mengenal satu sama lain dan hidup bersama. Demikian sebaliknya, konflik bisa menghantar seseorang kepada consensus.  
3.      Teori Konflik Jonathan Turner.
Turner mengatakan bahwa ada tiga soal utama dalam teori konflik, yaitu :
a.       Pertama, tidak ada definisi yang jelas tentang apa itu konflik, yakni apa yang termasuk didalam konflik dan apa yang bukan konflik.
b.      Kedua, teori konflik kelihatannya mengambang karena ia tidak menjelaskan unit analisa yang entahkah konflik antara individu, kelompok, organisasi, kelas-kelas atau konflik antara bangsa-bangsa.
c.       Ketiga, oleh karena ia merupakan reaksi atas fungsionalisme sruktural, maka ia sulit melepaskan diri dari teori itu.
Kemudian Turner  memusatkan perhatiannya pada konflik sebagai suatu prosesi peristiwa - peristiwa yang mengarah kepada interaksi yang disertai kekerasan antara dua pihak atau lebih. Dia menjelaskan Sembilan tahapan menuju konflik terbuka.
Adapun Sembilan tahap itu adalah sebagai berikut :
1.      Sistem social terdiri dari unit-unit atau kelompok-kelompok yang saling berhubungan satu sama lain.
2.      Didalam unit-unit atau kelompok-kelompok itu terdapat ketidakseimbangan pembagian kekuasaan atau sumber-sumber penghasilan.
3.      Unit-unit atau kelompok-kelompok yang tidak berkuasa atau tidak mendapat bagian dari sumber-sumber penghasilan mulai  mempertanyakan legimitasi system tersebut.
4.      Pertanyaan atas legimitasi itu membawa mereka kepada kesadaran bahwa mereka harus mengubah system alokasi kekuasaan atau sumber-sumber penghasilan itu demi kepentingan mereka.
5.      Kesadaran itu menyebabkan mereka secara emosional terpancing untuk marah.
6.      Kemarahan tersebut seringkali meledak begitu saja atas cara yang tidak terorganisir.
7.      Keadaan yang demikian menyebabkan mereka semakin tegang.
8.      Ketegangan yang semakin hebat menyebabkan mereka mencari jalan untuk mengorganisir diri guna melawan kelompok yang berkuasa.
4.      Teori Konflik Lewis Coser.
Teori konflik yang dikemukakan oleh Lewis Coser  sering kali disebut teori fungsionalisme konflik karena ia menekankan fungsi konflik bagi system social atau masyarakat. Salah satu hal yang membedakan Coser dari pendukung teori konflik lainnya ialah bahwa ia menekankan pentingnya konflik untuk mempertahankan keutuhan kelompok.
Lewis Coser menyebutkan beberapa fungsi dari konflik yaitu :
a.       Konflik dapat memperkuat solidaritas kelompok yang agak longgar. Dalam masyarakat yang terancam didentegrasi, konflik dengan masyarakat lain bisa menjadi kekuatan yang mempersatukan.
b.      Kelompok dengan kelompok lain dapat menghasilkan solidaritas didalam kelompok tersebut dan solidaritas itu bisa menghantarkannya kepada aliansi - aliansi dengan kelompok - kelompok lain.
c.       Konflik juga bisa menyebabkan anggota-anggota masyarakat yang terisolir menjadi berperran secara aktif


Emile Durkheim : Biografi, Pendidikan, Perhatian, Prestasi dan Kematiannya


Emile Durkheim : Biografi, Pendidikan, Perhatian, Prestasi dan Kematiannya

A.    Riwayat Hidup Emile Durkheim.
Emile Durkheim lahir tahun 1858 di Epinal, suatu perkampungan kecil orang Yahudi di bagian timur Prancis yang agak terpencil dari masyarakat luas. Ia keturunan pendeta Yahudi dan ia sendiri belajar untuk menjadi pendeta (rabbi). Tetapi, ketika berumur 10 tahun ia menolak menjadi pendeta.
Sejak itu perhatiannya terhadap agama lebih bersifat akademis ketimbang teologi. Ia bukan hanya kecewa terhadap pendidikan agama, tetapi juga pendidikan masalah kesusastraan dan estetika. Ia juga mendalami metodologi ilmiah dan prinsip moral yang diperlukan untuk menuntun kehidupan sosial. Ia menolak karir tradisional dalam filsafat dan berupaya mendapatkan pendidikan ilmiah yang dapat disumbangkan untuk pedoman moral masyarakat.
B.     Pendidikan Emile Durkheim. 
Durkheim adalah mahasiswa yang cepat matang. Ia masuk ke École Normale Supérieure pada 1879. Angkatannya adalah salah satu yang paling cemerlang pada abad ke-19 dan banyak teman sekelasnya, seperti Jean Jaurès dan Henri Bergson kemudian menjadi tokoh besar dalam kehidupan intelektual Prancis. Di ENS Durkheim belajar di bawah Fustel de Coulanges, seorang pakar ilmu klasik, yang berpandangan ilmiah sosial.
Pada saat yang sama, ia membaca karya-karya Auguste Comte dan Herbert Spencer. Jadi, Durkheim tertarik dengan pendekatan ilmiah terhadap masyarakat sejak awal kariernya. Ini adalah konflik pertama dari banyak konflik lainnya dengan sistem akademik Prancis, yang tidak mempunyai kurikulum ilmu sosial pada saat itu.
Durkheim merasa ilmu-ilmu kemanusiaan tidak menarik. Ia lulus dengan peringkat kedua terakhir dalam angkatannya ketika ia menempuh ujian agrégation – syarat untuk posisi mengajar dalam pengajaran umum – dalam ilmu filsafat pada 1882. Meski kita tertarik pada sosiologi ilmiah tetapi waktu itu belum ada bidang studi sosiologi sehingga antara 1882-1887 ia mengajar filsafat di sejumlah sekolah di Paris.
C.    Perhatian Terhadap Moralitas Masyarakat Dan Pendidikan.
Masalah-masalah dasar tentang moralitas dan usaha meningkatkan moralitas masyarakat merupakan perhatian pokok selama hidupnya. Selama lima tahun ia mengajar dalam satu sekolah menengah atas (lycees) di daerah Paris. Sejak awal karir mengajarnya, Durkheim bertekad untuk menekankan pengajaran praktis ilmiah serta moral daripada pendekatan filsafat tradisional yang menurut dia tidak relevan dengan masalah sosial dan moral yang gawat yang sedang melanda Republik ketiga itu.
Bersama Herbert Spencer Durkheim adalah salah satu orang pertama yang menjelaskan keberadaan dan sifat berbagai bagian dari masyarakat dengan mengacu kepada fungsi yang mereka lakukan dalam mempertahankan kesehatan dan keseimbangan masyarakat – suatu posisi yang kelak dikenal sebagai fungsionalisme. Durkheim juga menekankan bahwa masyarakat lebih daripada sekadar jumlah dari seluruh bagiannya. Jadi berbeda dengan rekan sezamannya, Max Weber, ia memusatkan perhatian bukan kepada apa yang memotivasi tindakan-tindakan dari setiap pribadi (individualisme metodologis), melainkan lebih kepada penelitian terhadap "fakta-fakta sosial", istilah yang diciptakannya untuk menggambarkan fenomena yang ada dengan sendirinya dan yang tidak terikat kepada tindakan individu. Ia berpendapat bahwa fakta sosial mempunyai keberadaan yang independen yang lebih besar dan lebih objektif daripada tindakan-tindakan individu yang membentuk masyarakat dan hanya dapat dijelaskan melalui fakta-fakta sosial lainnya daripada, misalnya, melalui adaptasi masyarakat terhadap iklim atau situasi ekologis tertentu. Durkheim juga sangat tertarik akan pendidikan. Hal ini sebagian karena ia secara profesional dipekerjakan untuk melatih guru, dan ia menggunakan kemampuannya untuk menciptakan kurikulumuntuk mengembangkan tujuan-tujuannya untuk membuat sosiologi diajarkan seluas mungkin.
 Lebih luas lagi, Durkheim juga tertarik pada bagaimana pendidikan dapat digunakan untuk memberikan kepada warga Prancis semacam latar belakang sekular bersama yang dibutuhkan untuk mencegah anomi (keadaan tanpa hukum) dalam masyarakat modern. Dengan tujuan inilah ia mengusulkan pembentukan kelompok-kelompok profesional yang berfungsi sebagai sumber solidaritas bagi orang-orang dewasa.
Durkheim berpendapat bahwa pendidikan mempunyai banyak fungsi :
1.      Memperkuat solidaritas sosial.
a.       Sejarah: belajar tentang orang-orang yang melakukan hal-hal yang baik bagi banyak orang membuat seorang individu merasa tidak berarti.
b.      Menyatakan kesetiaan: membuat individu merasa bagian dari kelompok dan dengan demikian akan mengurangi kecenderungan untuk melanggar peraturan.
2.      Mempertahankan peranan sosial.
Sekolah adalah masyarakat dalam bentuk miniatur. Sekolah mempunyai hierarkhi, aturan, tuntutan yang sama dengan "dunia luar". Sekolah mendidik orang muda untuk memenuhi berbagai peranan.
3.      Mempertahankan pembagian kerja.
Membagi-bagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecakapan. Mengajar siswa untuk mencari pekerjaan sesuai dengan kecakapan mereka.
Hasratnya terhadap ilmu makin besar ketika dalam perjalanannya ke Jerman ia berkenalan dengan psikologi ilmiah yang dirintis oleh Wilhelm Wundt.
Beberapa tahun sesudah kunjungannya ke Jerman, Durkheim menerbitkan sejumlah buku diantaranya adalah tentang pengalamannya selama di Jerman. Penerbitan buku itu membantu Durkheim mendapatkan jabatan di Jurusan Filsafat Universitas Bordeaux tahun 1887. DI sinilah Durkheim pertama kali memberikan kuliah ilmu sosial di Universitas Perancis. Ini adalah sebuah prestasi istimewa karena hanya berjarak satu dekade sebelumnya kehebohan meledak di Universitas Perancis karena nama Auguste Comte muncul dalam disertasi seorang mahasiswa.
Tanggung jawab utama Durkheim adalah mengajarkan pedagogik di sekolah pengajar dan kuliahnya yang terpenting adalah di bidang pendidikan moral. Tujuan instruksional umum mata kuliahnya adalah akan diteruskan kepada anak-anak muda dalam rangka membantu menanggulangi kemerosotan moral yang dilihatnya terjadi di tengah masyarakat Perancis.
D.    Prestasi, Kesuksesan Dan Pemikiran Emile Durkheim.
Tahun-tahun berikutnya ditandai oleh serentetan kesuksesan pribadi. Tahun 1893 ia menerbitkan tesis doktornya, The Devision of Labor in Society dalam bahasa Perancis dan tesisnya tentang Montesquieu dalam bahasa Latin. Buku metodologi utamanya, The Rules of Sociological Method, terbit tahun 1895 diikuti (tahun 1897) oleh hasil penelitian empiris bukunya itu dalam studi tentang bunuh diri. Sekitar tahun 1896 ia menjadi profesor penuh di Universitas Bordeaux.
Tahun 1902 ia mendapat kehormatan mengajar di Universitas di Perancis yang terkenal, Sorbonne, dan tahun 1906 ia menjadi profesor ilmu sangat terkenal lainnya, The Elementary Forins of Religious Life, diterbitkan pada tahun 1912. Kini Durkheim sering dianggap menganut pemikiran politik konservatif dan pengaruhnya dalam kajian sosiologi jelas bersifat konservatif pula. Tetapi dimasa hidupnya ia dianggap berpikiran liberal dan ini ditunjukkan oleh peran publik aktif yang dimainkannya dalam membela Alfred Drewfus, seorang kapten tentara Yahudi yang dijatuhi hukuman mati karena penghianatan yang oleh banyak orang dirasakan bermotif anti-yahudi. Tetapi minat Durkheim terhadap sosialisme juga dijadikan bukti bahwa ia menentang pemikiran yang menganggapnya seorang konservatif, meski jenis pemikiran sosialismenya sangat berbeda dengan pemikiran Marx dan pengikutnya.
Durkheim sebenarnya menamakan Marxisme sebagai "seperangkat hipotesis yang dapat dibantah dan ketinggalan zaman". Menurut Durkheim, sosialisme mencerminkan gerakan yang diarahkan pada pembaharuan moral masyarakat melalui moralitas ilmiah dan ia tak tertarik pada metode politik jangka pendek atau pada aspek ekonomi dari sosialisme. Ia tak melihat proletariat sebagai penyelamat masyarakat dan ia sangat menentang agitasi atau tindak kekerasan. Menurut Durkheim, sosialisme mencerminkan sebuah sistem dimana didalamnya prinsip moral ditemukan melalui studi sosiologi ilmiah di tempat prinsip moral itu diterapkan.
Durkheim berpengaruh besar dalam pembangunan sosiologi, tetapi pengaruhnya tak hanya terbatas di bidang sosiologi saja. Sebagian besar pengaruhnya terhadap bidang lain tersalur melalui jurnal L'annee Sociologique yang didirikannya tahun 1898. Sebuah lingkaran intelektual muncul sekeliling jurnal itu dan Durkheim berada dipusatnya. Melalui jurnal itu, Durkheim dan gagasannya mempengaruhi berbagai bidang seperti antropologi, sejarah, bahasa dan psikologi yang agak ironis, mengingat serangannya terhadap bidang psikologi.
E.     Kematian Emile Durkheim.
Durkheim meninggal pada 15 November 1917 sebagai seorang tokoh intelektual Perancis tersohor. Tetapi, karya Durkheim mulai memengaruhi sosiologi Amerika dua puluh tahun sesudah kematiannya, yakni setelah terbitnya The Structure of Social Action (1973) karya Talcott Parsons.



Sosiologi : Pengertian Menurut Etimologi, Terminologi dan Pendapat Para Ahli


Sosiologi : Pengertian Menurut Etimologi, Terminologi  dan Pendapat Para Ahli

A.    Pengertian Sosiologi.
1.      Pengertian Sosiologi Secara Etimologi.
Manusia selalu mengadakan hubungan ke mana pun dan di mana pun secara berulang, baik secara langsung maupun tidak langsung. Agar hubungan itu berjalan dengan baik, maka dalam berperilaku manusia senantiasa berpedoman pada nilai-nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Nilai dan norma yang dimiliki setiap masyarakat tidak sama. Dengan menyadari persamaan dan perbedaannya, serta keikutsertaan kita dalam hubungan sosial memberikan gambaran kepadamu tentang ilmu yang akan kita pelajari, yaitu sosiologi. 
Sebagai ilmu ia baru mulai dikenal pada abad ke-19 dengan nama yang berasal dari Auguste Comte (1798-1857) untuk menunjukkan sosiologi sebagai ilmu masyarakat yang memilki disiplin yaitu rencana pelajaran dan penyelidikan serta lapangannya sendiri. 
Sosiologi (Latin: socius= teman, kawan, sosial= berteman, bersama, berserikat) bermaksud untuk mengerti kejadian-kejadian dalam masyarakat yaitu persekutuan manusia, dan selanjutnya dengan pengertian itu untuk dapat berusaha mendatangkan perbaikan dalam kehidupan bersama.
2.      Pengertian Sosiologi Secara Terminologi.
Dalam arti terminologi, sosiologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari interaksi manusia di dalam masyarakat. Sosiologi bermaksud untuk mengkaji kejadiankejadian dalam masyarakat, yaitu persekutuan manusia yang selanjutnya berusaha untuk mendatangkan perbaikan dalam kehidupan bersama.
Berikut ini pengertian sosiologi menurut pendapat para ahli dari sudut pandang masing - masing.   
1.      Auguste Comte.
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari manusia sebagai makhluk yang mempunyai naluri untuk senantiasa hidup bersama dengan sesamanya.
2.      Emile Durkheim.
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari fakta sosial. Fakta sosial merupakan cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang berada di luar individu, serta mempunyai kekuatan memaksa dan mengendalikan.
3.      Max Weber.
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tindakan sosial. Tindakan sosial adalah tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan dan berorientasi pada perilaku orang lain.
4.      Pieter Jan Bouman.
Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari hubungan-hubungan sosial antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, serta sifat dan perubahanperubahan dalam lembaga-lembaga dan ide-ide sosial.
5.      Pitirim A. Sorokin.
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari mengenai :
a.      Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial, misalnya antara gejala ekonomi dan agama, keluarga dan moral, hukum dan ekonomi, gerak masyarakat dan politik, dan sebagainya.
b.      Hubungan dan saling pengaruh antara gejala-gejala sosial dan gejala-gejala nonsosial, misalnya gejala geografis, biologis, dan sebagainya.
c.       Ciri-ciri umum semua jenis gejala sosial.  
6.      Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi.
Sosiologi atau ilmu masyarakat adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial.
7.      Kingsley Davis.
Sosiologi adalah suatu studi yang mengkaji bagaimana masyarakat mencapai kesatuannya, kelangsungannya, dan cara - cara masyarakat itu berubah.
3.      Objek Sosiologi.
Sejak masanya Aristoteles sebenarnya masyarakat telah menjadi objek perhatian bagi kalangan pemikir, hanya saja pada waktu itu nama sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang sejati belum terbentuk. Untuk mendefinisikan sosiologi pada waktu itu dapat dikatakan belum ada kesempatan, lantaran banyaknya pendapat yang hanya didasarkan pada sebagian besar pengalaman dan pengamatan terhadap pergaulan hidup semata dan belum dilakukan kajian ilmiah secara kausalitas. Persoalan masyarakat banyak disinggung tatkala para pemikir pada waktu itu sedang mengamati soal politik merupakan awal pertumbuhan dari dari sosiologi.
Teori-teori kemasyarakatan banyak diajukan oleh para ahli politik dalam rangka usaha mempertegas dan membentuk definisi sosiologi. Pemikiran diatas usaha itu banyak diawali dengan menerangkan soal hubungan antar manusia, hak dan kewajiban manusia, disamping banyak pula menyebutkan ketimpangan hubungan antara penguasa dan yang dikuasai. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa sosiologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempunyai obyek studi masyarakat.
Namun demikian sampai sekarang definisi sosiologi masih agak sukar untuk memberikan suatu batasan yang pasti tentang definisi sosiologi lantaran terlalu banyak cangkupan kajiannya, sehingga kalaupun diberikan suatu definisi masih ada juga yang tidak memenuhi unsure-unsurnya secra menyeluruh. Tidak sedikit para ahli menganggap bahwa definisi hanya dipakai sebagai petunjuk dan pegangan sementara saja.
Sebagai pegangan sementara dapat dilihat beberapa pendapat sarjana yang telah mencoba untuk memberikan definisi sosiologi sebagai berikut :
1.      Pitirim A. Sorokin mengatakan bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari :
a.       Hubungan dan pengaruh timbale balik antara aneka macam gejala2 sosial.
b.      Hubungan dan pengaruh antara gejala social dengan gejala non social.
2.      Roucek and Warren (Joseph S. Roucek dan Roland L. Warren) mengemukakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dengan kelompok - kelompok.
3.      Jacques.A.A.Van Doorn dan C.J.Lammers mengemukakan bahwa sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil. 
Maka menurut sifat hakikatnya, dapat ditetapkan bahwa sosiologi adalah ilmu pengetahuan ilmiah yang telah berdiri sendiri dan mempunyai objek studi tersendiri pula.   Sosiologi juga dapat diartikan sebagai ilmu tentang perilaku social ditinjau dari kecenderungan individu dengan individu lain, dengan memperhatikan symbol-simbol interaksi.
4.      Selo Sumardjan dan Soelaeman Soemardi,
Sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan sosial.

Riwayat Hidup Wilhelm Conrad Rontgen


Riwayat Hidup Wilhelm Conrad Rontgen.

A.    Pendahuluan.
Wilhelm Conrad Rontgen adalah penerima perhargaan nobel fisika untuk pertama kali, yaitu pada tahun 1901.
Nama karya yang diberikan penghargaan untuk Wilhelm Conrad Röntgen adalah “pengakuan terhadap pelayanan yang luar biasa yang telah dilakukannya dalam menemukan sinar Röntgen yang dinamai atas dirinya.
B.     Riwayat Hidup Wilhelm Conrad Rontgen.
Wilhelm Conrad Röntgen lahir pada tanggal 27 Maret 1845, di Lennep Jerman. Wilhelm Conrad Röntgen adalah anak tunggal dari seorang pengusaha dan pedagang pakaian. Ibunya bernama Charlotte Constanze Frowein dari Amsterdam, seorang anggota keluarga Lennep yang telah lama bermukim di Amsterdam. Saat berusia tiga tahun, keluarga Röntgen pindah ke Apeldoorn di Belkita. Di tempat itu, Röntgen masuk Institute of Martinus Herman van Doorn, sebuah sekolah dasar berasrama.
Di sekolahnya, Röntgen sama sekali tidak menunjukkan minat khusus apa-apa. Namun demikian, dia memiliki kecintaan yang luar biasa terhadap alam dan sangat gemar bertualang di negara-negara terbuka dan memiliki hutan-hutan yang luas. Dia memiliki keistimewaan berupa ketangkasan dalam melakukan penemuan-penemuan mekanis, sebuah karakteristik yang tetap melekat pada dirinya hingga akhir hidupnya.
Pada tahun 1862 dia masuk sebuah sekolah teknik di Utrecht, tempat di mana dia secara tidak adil dikeluarkan dari sekolah itu karena dituduh membuat karikatur salah seorang guru di sekolah tersebut, yang pada kenyataannya karikatur tersebut dibuat oleh siswa yang lain.
Wilhelm Conrad Röntgen kemudian masuk di University of Utrecht pada tahun 1865 untuk mempelajari fisika. Karena tidak memenuhi persyaratan yang diharuskan sebagai seorang mahasiswa reguler, dan mendengar kabar bahwa Röntgen berhak masuk di politeknik di Zurich karena telah lulus ujian masuk, dia melewatkan kesempatan di University of Utrecht dan mulai belajar di politeknik Zurich sebagai seorang mahasiswa teknik mekanik. Dia mengikuti kuliah yang dibawakan oleh Clausius dan bekerja di laboratorium Kundt. Baik Kundt maupun Clausius memberi pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan Röntgen selanjutnya.
Pada tahun 1896 Röntgen meraih gelar Ph.D di University of Zurich, dan diminta menjadi asisten Kundt. Bersama Kundt, Röntgen kemudian pindah ke Wurzbur pada tahun yang sama, dan tiga tahun berikutnya pindah ke Strasbourg.
Pada tahun 1874 Wilhelm Conrad Röntgen memiliki kualifikasi sebagai seorang dosen di Strasbourg University dan pada tahun 1875 diangkat menjadi profesor di Academy of Agriculture di Hohenheim di Wurttemberg. Pada tahun 1876 Röntgen kembali ke Strasbourg sebagai seorang Profesor Fisika. Namun, tiga tahun kemudian dia menerima permintaan untuk menjadi ketua Fisika di University of Giessen. Setelah menolak permintaan yang berkali-kali untuk mengisi posisi ketua fisika di Universities of Jena (1886) dan Utrecht (1888), Röntgen akhirnya menerima permintaan menjadi ketua fisika di University of Wurzburg (1888). Di University of Wurzburg, Röntgen menggantikan Kohlrausch dan banyak bertemu dengan sejumlah kolega-koleganya, di antaranya Helmholtz dan Lorentz.
Pada tahun 1899 dia kembali menolak sebuah tawaran untuk menjadi Ketua Fisika di University of Leipzig, tetapi pada tahun 1900 dia menerima tawaran untuk posisi yang sama di University of Munich, atas permintaan khusus dari pemerintah Bavarian, dan menjadi pengganti E. Lommel. Di tempat inilah, University of Munich, Röntgen menghabiskan sisa usianya, walaupun dia masih ditawari, tetapi selalu menolak, untuk menjadi presiden Physikalisch-Technische Reichsanstalt di Berlin dan Ketua Fisika di Academy Berlin.
Hasil karya Wilhelm Conrad Röntgen yang pertama yang dipublikasikan pada tahun 1870, berkaitan dengan panas spesifik gas, yang kemudian diikuti dengan sejumlah makalah tentang konduktivitas termal kristal beberapa tahun berikutnya. Di antara berbagai masalah yang ditelitinya antara lain adalah karakteristik listrik dari kuarsa, pengaruh tekanan terhadap terhadap indeks bias berbagai fluida, modifikasi bidang polarisasi cahaya akibat pengaruh elektromagnetik, variasi fungsi temperatur dan kompresibilitas air dan fluida lainnya, fenomena yang menyertai penyebaran tetesan minyak pada air, dan sebagainya.
C.    Penemuan Sinar-X Oleh Wilhelm Conrad Rontgen.
Namun demikian, nama Röntgen akhirnya dikaitkan dengan penemuan sinar yang dia sebut dengan nama sinar-X. Ketika itu, pada tahun 1895, dia sedang mempelajari fenomena yang menyertai pembawa arus listrik melalui sebuah gas bertemperatur sangat rendah.
Beberapa fisikawan sebelumnya yang telah mempelajari gejala ini antara lain adalah J. Plucker (1801-1868), J. W. Wittorf (1824-1914), C.F. Varley (1828-1883), E. Goldstein (1850-1931), Sir William Crookes (1832-1919), H. Hertz (1857-1894) dan Ph. Von Lenard (1862-1947).
Berdasarkan hasil kerja para fisikawan ini, sifat-sifat sinar katode – nama yang diberikan oleh Goldstein untuk arus listrik dalam gas murni yang dihasilkan oleh tegangan listrik yang sangat tinggi dengan menggunakan koil induksi Ruhmkorff— telah diketahui dengan sangat baik. Namun demikian, hasil kerja Röntgen tentang sinar katode telah mengantarkannya menemukan sebuah jenis sinar yang baru.
Pada sore hari tanggal 8 November 1895, Wilhelm Conrad Röntgen menemukan bahwa jika tabung lucutan listrik ditutupi dengan sebuah karton hitam yang tebal sehingga menghalangi cahaya untuk masuk. Kemudian ditempatkan dalam sebuah ruang yang gelap, sebuah pelat kertas yang pada salah satu sisinya ditutupi dengan barium platina sianida kemudian diletakkan pada jalur berkas sinar yang disebutnya sinar-X itu, maka pelat kertas berlapis barium platina sianida itu akan berpendar meskipun diletakkan sejauh sekitar 2 meter dari tabung lucutan listrik. Pada eksperimen selanjutnya, Röntgen menemukan bahwa benda-benda dengan ketebalan yang bervariasi yang ditempatkan di lintasan berkas akan menunjukkan bahwa sinar-X memiliki daya tembus yang berbeda-beda terhadap ketebalan bahan-bahan tersebut, apabila hasilnya di rekam pada sebuah pelat fotografi.
Ketika Röntgen meminta istrinya menempatkan tangannya di lintasan jalur sinar tersebut ke pelat fotografi, setelah beberapa kali melakukan perbaikan plat, dia melihat gambar tangan istrinya yang membentuk bayangan yang dibentuk oleh tulang tangannya serta sebuah cincin yang dikenakan oleh istrinya, dikelilingi oleh bayangan penumbra daging tangannya, yang lebih mudah ditembus oleh sinar tersebut sehingga menghasilkan bayangan yang lebih redup. Ini merupakan hasil foto Röntgen pertama yang dihasilkan.
Pada eksperimen berikutnya, Röntgen menunjukkan bahwa sinar baru tersebut dihasilkan oleh tumbukan sinar katode pada sebuah material. Karena sifat alamiah sinar tersebut belum diketahui pada saat itu, Röntgen menamakannya dengan sinar-X. Pada waktu berikutnya, Max von Laue dan muridnya menunjukkan bahwa sinar tersebut memiliki sifat elektromagnetik yang sama dengan cahaya, selain bahwa sinar tersebut memiliki frekuensi vibrasi yang lebih tinggi.
D.    Penghargaan Nobel Fisika Pertama Untuk Wilhelm Conrad Röntgen.
Pada 1901 Wilhelm Conrad Röntgen menerima penghargaan nobel fisika atas penemuan sinar-X. Sinar-X atau sinar Röntgen adalah salah satu bentuk dari radiasi elektromagnetik dengan panjang gelombang berkisar antara 10 nanometer ke 100 pikometer (sama dengan frekuensi dalam rentang 30 petahertz – 30 exahertz) dan memiliki energi dalam rentang 100 eV – 100 Kev. Sinar-X umumnya digunakan dalam diagnosis gambar medis dan Kristalografi sinar-X. Sinar-X adalah bentuk dari radiasi ion dan dapat berbahaya.
Berbagai penghargaan pun tercurah kepada Wilhelm Conrad Röntgen atas penemuan ini. pada beberapa kota, nama-nama jalan diubah menjadi namanya, dan sejumlah daftar lengkap penghargaan, medali, doktor kehormatan, anggota kehormatan berbagai lembaga sosial di Jerman, termasuk di luar Jerman, serta berbagai penghargaan lainnya diberikan kepadanya. Terlepas dari semua ini, Röntgen tetaplah seorang pria yang menunjukkan kesederhanaan dan seseorang yang pendiam. Sepanjang hidupnya, Röntgen tetap mempertahankan kecintaannya terhadap alam dan kegiatan-kegiatan di luar ruang yang disenanginya. Banyak waktu liburnya dihabiskan rumah musim panasnya di Weilheim, yang terletak di kaki gunung Bavarian, pegunungan Alpen dimana dia menghibur teman-temannya dan menjalani banyak petualangan di pegunungan tersebut.
Wilhelm Conrad Röntgen adalah seorang penjelajah gunung yang hebat dan telah berkali-kali mengalami situasi yang berbahaya dalam petualangannya. Karena sifat ramah dan kesopanannya yang alami, Röntgen selalu memahami pandangan-pandangan dan kesulitan orang lain. Dia selalu merasa malu untuk memiliki seorang asisten, dan lebih menyukai bekerja sendiri. Banyak dari alat-alat yang digunakannya selalu dibuatnya sendiri dengan cerdik dengan keterampilan seorang eksperimenter.
Wilhelm Conrad Röntgen menikah dengan Anna Bertha Ludwig dari Zurich, yang ditemuinya pertama kali di cafe yang dijalankan oleh ayahnya. Anna adalah keponakan dari sastrawan Otto Ludwig. Mereka menikah pada tahun 1872 di Apeldoorn, Belkita. Mereka tidak dikaruniai anak, tetapi pada tahun 1887 mengadopsi Josephine Bertha Ludwig pada saat berusia 6 tahun, puteri dari saudara laki-laki tunggal Anna, istrinya. Lima tahun setelah Kematian istrinya, karena menderita karsinoma usus, pada tanggal 10 Februari 1923 Wilhelm Conrad Röntgen meninggal dunia.

Auguste Comte dan 3 Tahapan Proses Evolusi Manusia


Auguste Comte dan 3 Tahapan Proses Evolusi Manusia 

A.    Pendahuluan.
August comte (1798 – 1857), Seorang ahli filsafat dari Perancis yang juga dijuluki sebagai bapak sosiologi. Sebenarnya, Comte lebih tepat dianggap sebagai got father daripada progenitor sosiologi karena sumbangan comte terbatas pada pemberian nama dan suatu filsafat yang membantu perkembangan sosiologi.
Menurut Reiss tokoh yang lebih tepat dianggap sebagai penyumbang utama bagi kemunculan sosiologi ialah Emile Durkheim.
B.     Sosiologi menurut Pendapat Para Ahli.
Sosiologi berasal dari Socius dan logos. Di mana socius memiliki arti kawan / teman dan logos berarti kata atau berbicara.
1.      Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi.
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial. Menurut ahli sosiologi lain yakni
2.      Emile Durkheim.
Sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial, yakni fakta yang mengandung cara bertindak, berpikir, berperasaan yang berada di luar individu di mana fakta-fakta tersebut memiliki kekuatan untuk mengendalikan individu.
Coser (1977) mengisahkan bahwa comte semula bermaksud memberikan nama social physics bagi ilmu yang akan diciptakannya itu, namun kemudian mengurungkan niatnya karena istilah tersebut telah digunakan oleh seorang tokoh lain, Saint simon.
Comte mengemukakan pemikirannya tentang suatu filsafat yang mendorong perkembangan sosiologi dalam bukunya "Course de philosophie positive" mengenai "hukum tiga tahap".
Comte menjelaskan bahwa tujuannya yang menyeluruh adalah "untuk menjelaskan setepat mungkin gejala perkembangan yang besar dari umat manusia dengan semua aspeknya yang penting, yakni menemukan mata rantai yang harus ada dari perubahan-perubahan umat manusia mulai dari kondisi yang hanya sekedar lebih tinggi daripada suatu masyarakat kera besar, secara bertahap menuju ke tahap peradapan eropa sekarang ini".
C.    Teori Pemikiran August Comte.
Hukum tiga tahap merupakan usaha comte untuk menjelaskan kemajuan evolusioner umat manusia dari masa primitive sampai modern. Ini membawa kita kepada landasan pendekatan comte yakni teori evolusinya atau tiga tahap tingkatan. Teori ini mengemukakan adanya tiga tingkatan intelektual yang harus dilalui dunia di sepanjang sejarahnya.
Menurut August Comte, proses evolusi ini melalui tiga tahapan utama :
1.      Tahapan Teologis.
Yaitu akal budi manusia, yang mencari kodrat manusia, yakni sebab pertama dan sebab akhir dari segala akibat – singkatnya, pengetahuan absolute, mengandaikan bahwa semua gejala dihasilkan oleh tindakan langsung dari hal-hal supranatural.
2.      Tahapan Metafisis.
Dalam fase metafisik, atau tahap transisi antara tahap teologis dan positivis. Tahap ini ditandai dengan suatu kepercayaan akan hukum-hukum alam yang asasi yang dapat ditemukan dengan akal budi. Atau dengan kata lain akal budi mengandaikan bukan hal supranatural, melainkan kekuatan-kekuatan abstrak, hal-hal yang benar-benar nyata melekat pada semua benda.
3.      Tahapan Positivistic.
Yaitu akal budi telah meninggalkan pencarian yang sia-sia terhadap pengertian-pengertian yang absolut, asal dan tujuan alam semesta, serta sebab-sebab gejala dan memusatkan perhatiannya pada studi tentang hukum-hukumnya – yakni hubungan-hubungan urutan dan persamaannya yang tidak berubah. Penalaran dan pengamatan, digabungkan secara tepat, merupakan sarana-sarana pengetahuan ini. Comte memandang seluruh pengetahuan sebagai ilmu sosial alam dalam pengertianya yang luas karena ia menggambarakan perkembangan konteks sosial, khususnya sebagai salah satu dari tiga tahapan intelektual tersebut
Jelas bahwa dalam teorinya tentang dunia, comte memusatkan perhatian pada faktor intelektual. Ia mengatakan bahwa kekacauan intelektual menyebabkan kekacauan social. Kekacauan ini berasal dari sistem gagasan terdahulu (teologi dan metafisik) yang terus ada dalam era positif (ilmiah). Pergolakan social baru akan berakhir apabila kehidupan masyarakat sepenuhnya dikendalikan oleh positivisme. Positivisme akan muncul meski tak secepat yang diharapkan orang.
Comte juga membagi sistem social menjadi dua bagian penting, yaitu masyarakat dan hukum-hukum keberadaan manusia sebagai makhluk social dan yang kedua adalah dinamika social atau hukum-hukum perubahan social.
Yang mendasari system ini adalah naluri kemanusiaan yang terdiri dari atas tiga faktor utama, yaitu :
1.      Naluri - naluri pelestarian (naluri seksual maupun material).
2.      Naluri - naluri perbaikan (dalm bidang militer dan industry). 
3.      Naluri social (kasih sayang, pemujaan dan cinta semesta).
Diantara ketiganya ada naluri kebanggaan dan kesombongan.
D.    Metodologi Menurut Comte.
Metode positif mengarah pada perkembangan kebenaran organis (kebenaran yang paling tinggi). Metode ini mengembangkan penggunaan observasi (penelitian), percobaan (exsperiment), serta perbandingan untuk memahami keseluruhan statisika dan dinamika social, metode-metode tersebut memberi gambaran terhadap hukum-hukum social melalui eksperimentasi, baik secara langsung maupun tak langsung, sebagai halnya evolusi masyarakat secara umum, dengan cara ini comte sebagaimana metodologi yang mengarah perkembangan yang lebih luas terhadap model teorinya yang didasarkan organik dan natural, yaitu pada asumsi-asumsi organik dan natural.
Kesatuan ilmu juga diperlihatkan. Menurut comte, semua ilmu itu memperlihatkan hukum perkembangan intelektual yang sama, seperti nampak dalam perkembangan hukum tiga tahap. Sedangkan gagasan dasar bahwa manusia dan gejala sosial merupakan bagian dari alam dan dapat di analisa dengan metode-metode ilmu alam.
Sumbangan comte lainnya ialah memberikan suatu analisa komprehensif mengenai kesatuan fisolofis dan metodologis yang menjadi dasar antara apa yang disebut ilmu-ilmu alam dan ilmu sosial. Karena memperkenalkan metode positif ini, maka comte dianggap sebagai perintis positive.
Ciri metode positif ialah bahwa objek yang dikaji harus berupa fakta, dan bahwa kajian harus bermanfaat serta mengarah ke kepastian dan kecermatan.
Sarana yang menurut Comte dapat digunakan untuk melakukan kajian ialah :
1.      Pengamatan.
2.      Perbandingan.
3.      Eksperimen.
4.      Metode historis.