Auguste Comte dan 3 Tahapan Proses Evolusi Manusia


Auguste Comte dan 3 Tahapan Proses Evolusi Manusia 

A.    Pendahuluan.
August comte (1798 – 1857), Seorang ahli filsafat dari Perancis yang juga dijuluki sebagai bapak sosiologi. Sebenarnya, Comte lebih tepat dianggap sebagai got father daripada progenitor sosiologi karena sumbangan comte terbatas pada pemberian nama dan suatu filsafat yang membantu perkembangan sosiologi.
Menurut Reiss tokoh yang lebih tepat dianggap sebagai penyumbang utama bagi kemunculan sosiologi ialah Emile Durkheim.
B.     Sosiologi menurut Pendapat Para Ahli.
Sosiologi berasal dari Socius dan logos. Di mana socius memiliki arti kawan / teman dan logos berarti kata atau berbicara.
1.      Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi.
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial. Menurut ahli sosiologi lain yakni
2.      Emile Durkheim.
Sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial, yakni fakta yang mengandung cara bertindak, berpikir, berperasaan yang berada di luar individu di mana fakta-fakta tersebut memiliki kekuatan untuk mengendalikan individu.
Coser (1977) mengisahkan bahwa comte semula bermaksud memberikan nama social physics bagi ilmu yang akan diciptakannya itu, namun kemudian mengurungkan niatnya karena istilah tersebut telah digunakan oleh seorang tokoh lain, Saint simon.
Comte mengemukakan pemikirannya tentang suatu filsafat yang mendorong perkembangan sosiologi dalam bukunya "Course de philosophie positive" mengenai "hukum tiga tahap".
Comte menjelaskan bahwa tujuannya yang menyeluruh adalah "untuk menjelaskan setepat mungkin gejala perkembangan yang besar dari umat manusia dengan semua aspeknya yang penting, yakni menemukan mata rantai yang harus ada dari perubahan-perubahan umat manusia mulai dari kondisi yang hanya sekedar lebih tinggi daripada suatu masyarakat kera besar, secara bertahap menuju ke tahap peradapan eropa sekarang ini".
C.    Teori Pemikiran August Comte.
Hukum tiga tahap merupakan usaha comte untuk menjelaskan kemajuan evolusioner umat manusia dari masa primitive sampai modern. Ini membawa kita kepada landasan pendekatan comte yakni teori evolusinya atau tiga tahap tingkatan. Teori ini mengemukakan adanya tiga tingkatan intelektual yang harus dilalui dunia di sepanjang sejarahnya.
Menurut August Comte, proses evolusi ini melalui tiga tahapan utama :
1.      Tahapan Teologis.
Yaitu akal budi manusia, yang mencari kodrat manusia, yakni sebab pertama dan sebab akhir dari segala akibat – singkatnya, pengetahuan absolute, mengandaikan bahwa semua gejala dihasilkan oleh tindakan langsung dari hal-hal supranatural.
2.      Tahapan Metafisis.
Dalam fase metafisik, atau tahap transisi antara tahap teologis dan positivis. Tahap ini ditandai dengan suatu kepercayaan akan hukum-hukum alam yang asasi yang dapat ditemukan dengan akal budi. Atau dengan kata lain akal budi mengandaikan bukan hal supranatural, melainkan kekuatan-kekuatan abstrak, hal-hal yang benar-benar nyata melekat pada semua benda.
3.      Tahapan Positivistic.
Yaitu akal budi telah meninggalkan pencarian yang sia-sia terhadap pengertian-pengertian yang absolut, asal dan tujuan alam semesta, serta sebab-sebab gejala dan memusatkan perhatiannya pada studi tentang hukum-hukumnya – yakni hubungan-hubungan urutan dan persamaannya yang tidak berubah. Penalaran dan pengamatan, digabungkan secara tepat, merupakan sarana-sarana pengetahuan ini. Comte memandang seluruh pengetahuan sebagai ilmu sosial alam dalam pengertianya yang luas karena ia menggambarakan perkembangan konteks sosial, khususnya sebagai salah satu dari tiga tahapan intelektual tersebut
Jelas bahwa dalam teorinya tentang dunia, comte memusatkan perhatian pada faktor intelektual. Ia mengatakan bahwa kekacauan intelektual menyebabkan kekacauan social. Kekacauan ini berasal dari sistem gagasan terdahulu (teologi dan metafisik) yang terus ada dalam era positif (ilmiah). Pergolakan social baru akan berakhir apabila kehidupan masyarakat sepenuhnya dikendalikan oleh positivisme. Positivisme akan muncul meski tak secepat yang diharapkan orang.
Comte juga membagi sistem social menjadi dua bagian penting, yaitu masyarakat dan hukum-hukum keberadaan manusia sebagai makhluk social dan yang kedua adalah dinamika social atau hukum-hukum perubahan social.
Yang mendasari system ini adalah naluri kemanusiaan yang terdiri dari atas tiga faktor utama, yaitu :
1.      Naluri - naluri pelestarian (naluri seksual maupun material).
2.      Naluri - naluri perbaikan (dalm bidang militer dan industry). 
3.      Naluri social (kasih sayang, pemujaan dan cinta semesta).
Diantara ketiganya ada naluri kebanggaan dan kesombongan.
D.    Metodologi Menurut Comte.
Metode positif mengarah pada perkembangan kebenaran organis (kebenaran yang paling tinggi). Metode ini mengembangkan penggunaan observasi (penelitian), percobaan (exsperiment), serta perbandingan untuk memahami keseluruhan statisika dan dinamika social, metode-metode tersebut memberi gambaran terhadap hukum-hukum social melalui eksperimentasi, baik secara langsung maupun tak langsung, sebagai halnya evolusi masyarakat secara umum, dengan cara ini comte sebagaimana metodologi yang mengarah perkembangan yang lebih luas terhadap model teorinya yang didasarkan organik dan natural, yaitu pada asumsi-asumsi organik dan natural.
Kesatuan ilmu juga diperlihatkan. Menurut comte, semua ilmu itu memperlihatkan hukum perkembangan intelektual yang sama, seperti nampak dalam perkembangan hukum tiga tahap. Sedangkan gagasan dasar bahwa manusia dan gejala sosial merupakan bagian dari alam dan dapat di analisa dengan metode-metode ilmu alam.
Sumbangan comte lainnya ialah memberikan suatu analisa komprehensif mengenai kesatuan fisolofis dan metodologis yang menjadi dasar antara apa yang disebut ilmu-ilmu alam dan ilmu sosial. Karena memperkenalkan metode positif ini, maka comte dianggap sebagai perintis positive.
Ciri metode positif ialah bahwa objek yang dikaji harus berupa fakta, dan bahwa kajian harus bermanfaat serta mengarah ke kepastian dan kecermatan.
Sarana yang menurut Comte dapat digunakan untuk melakukan kajian ialah :
1.      Pengamatan.
2.      Perbandingan.
3.      Eksperimen.
4.      Metode historis.

0 komentar:

Post a Comment