Teori Konflik Menurut 4 Sosiolog


Teori Konflik Menurut 4 Sosiolog

A.    Pengertian Teori Konflik.
Teori konflik adalah suatu prespektif didalam sosiologi yang memandang masyarakat sebagai satu sistem sosial yang terdiri dari bagian - bagian atau komponen - komponen yang mempunyai kepentingan yang berbeda - beda dimana komponen yang  satu berusaha untuk menaklukan komponen yang lain guna memenuhi kepentingannya atau memperoleh kepentingan yang sebesar - besarnya.
B.     Teori Konflik Menurut Para Ahli.
1.      Teori Konflik Karl Mark.
Menurut Karl Marx, hakekat social adalah konflik. Konflik adalah satu kenyataan social yang bisa ditemukan dimana-mana. Bagi Mark, konflik social adalah pertentangan antara segmen-segmen masyarakat untuk memperebutkan asset-aset yang bernilai.
Jenis dari konflik antara individu, konflik antara kelompok, dan bahkan konflik antar bangsa. Tetapi bentuk konflik yang paling menonjol menurut Marx adalah konflik yang disebabkan oleh cara produksi barang barang yang material.
2.      Teori Konflik Ralf Dahrendorf.
Teori konflik yang dikemukakan oleh Ralf Dahrendorf sering kali disebut dengan teori konflik dialektik. Bagi Dahrendorf masyarakat memiliki dua wajah, yakni konflik dan konsesus,
Misalnya si A denngan si B dalam kelas ini  tidak mungkin terlibat dalam konflik karena mereka tidak pernah mengenal satu sama lain dan hidup bersama. Demikian sebaliknya, konflik bisa menghantar seseorang kepada consensus.  
3.      Teori Konflik Jonathan Turner.
Turner mengatakan bahwa ada tiga soal utama dalam teori konflik, yaitu :
a.       Pertama, tidak ada definisi yang jelas tentang apa itu konflik, yakni apa yang termasuk didalam konflik dan apa yang bukan konflik.
b.      Kedua, teori konflik kelihatannya mengambang karena ia tidak menjelaskan unit analisa yang entahkah konflik antara individu, kelompok, organisasi, kelas-kelas atau konflik antara bangsa-bangsa.
c.       Ketiga, oleh karena ia merupakan reaksi atas fungsionalisme sruktural, maka ia sulit melepaskan diri dari teori itu.
Kemudian Turner  memusatkan perhatiannya pada konflik sebagai suatu prosesi peristiwa - peristiwa yang mengarah kepada interaksi yang disertai kekerasan antara dua pihak atau lebih. Dia menjelaskan Sembilan tahapan menuju konflik terbuka.
Adapun Sembilan tahap itu adalah sebagai berikut :
1.      Sistem social terdiri dari unit-unit atau kelompok-kelompok yang saling berhubungan satu sama lain.
2.      Didalam unit-unit atau kelompok-kelompok itu terdapat ketidakseimbangan pembagian kekuasaan atau sumber-sumber penghasilan.
3.      Unit-unit atau kelompok-kelompok yang tidak berkuasa atau tidak mendapat bagian dari sumber-sumber penghasilan mulai  mempertanyakan legimitasi system tersebut.
4.      Pertanyaan atas legimitasi itu membawa mereka kepada kesadaran bahwa mereka harus mengubah system alokasi kekuasaan atau sumber-sumber penghasilan itu demi kepentingan mereka.
5.      Kesadaran itu menyebabkan mereka secara emosional terpancing untuk marah.
6.      Kemarahan tersebut seringkali meledak begitu saja atas cara yang tidak terorganisir.
7.      Keadaan yang demikian menyebabkan mereka semakin tegang.
8.      Ketegangan yang semakin hebat menyebabkan mereka mencari jalan untuk mengorganisir diri guna melawan kelompok yang berkuasa.
4.      Teori Konflik Lewis Coser.
Teori konflik yang dikemukakan oleh Lewis Coser  sering kali disebut teori fungsionalisme konflik karena ia menekankan fungsi konflik bagi system social atau masyarakat. Salah satu hal yang membedakan Coser dari pendukung teori konflik lainnya ialah bahwa ia menekankan pentingnya konflik untuk mempertahankan keutuhan kelompok.
Lewis Coser menyebutkan beberapa fungsi dari konflik yaitu :
a.       Konflik dapat memperkuat solidaritas kelompok yang agak longgar. Dalam masyarakat yang terancam didentegrasi, konflik dengan masyarakat lain bisa menjadi kekuatan yang mempersatukan.
b.      Kelompok dengan kelompok lain dapat menghasilkan solidaritas didalam kelompok tersebut dan solidaritas itu bisa menghantarkannya kepada aliansi - aliansi dengan kelompok - kelompok lain.
c.       Konflik juga bisa menyebabkan anggota-anggota masyarakat yang terisolir menjadi berperran secara aktif


0 komentar:

Post a Comment