Buruh Temporer Perkotaan : Para Kuli Bangunan


Buruh Temporer Perkotaan : Para Kuli Bangunan

A.      Pendahuluan.
Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota. Urbanisasi adalah masalah yang cukup serius bagi kita semua. Persebaran penduduk yang tidak merata antara desa dengan kota akan menimbulkan berbagai permasalahan kehidupan sosial kemasyarakatan. Jumlah peningkatan penduduk kota yang signifikan tanpa didukung dan diimbangi dengan jumlah lapangan pekerjaan, fasilitas umum, aparat penegak hukum, perumahan, penyediaan pangan, dan lain sebagainya tentu adalah suatu masalah yang harus segera dicarikan jalan keluarnya.
Untuk mendapatkan suatu niat untuk berhijrah atau pergi ke kota dari desa, seseorang biasanya harus mendapatkan pengaruh yang kuat dalam bentuk ajakan, informasi media massa, impian pribadi, terdesak kebutuhan ekonomi, dan lain sebagainya.
Perpindahan itu diharapkan bisa merubah kehidupannya yang lebih baik lagi, dan biasanya ubanisasi disebabkan karena beberapa hal, diantaranya yaitu : 
1.      Melihat Kehidupan kota yang lebih modern,
2.      Sarana dan prasarana kota lebih lengkap,
3.      Banyak lapangan pekerjaan di kota,
4.      Pendidikan sekolah dan perguruan tinggi lebih baik dan berkualitas.
Akan tetapi tidak semua masyarakat desa yang berhijrah ke kota mendapatkan kehidupan atau pekerjaan yang sesuai dengan keinginan nya. Contohnya adalah seorang buruh, sebagai salah satu kelompok sosial yang memiliki kesadaran yang kuat atas perbedaan atau persamaan kelas dan identitas, pada satu sisi, buruh memiliki kemampuan yang besar untuk membangun solidaritas di antara mereka agar dapat terus bertahan.
Akan tetapi, disisi lain, kekuatan itu akan sangat mudah diinterpretasi oleh mereka yang berada di luar buruh sebagai ancaman sekaligus potensi. Di dalam menjalani  kehidupan, manusia membutuhkan 3 kebutuhan primer, yakni sandang, pangan, dan papan. Ketiga kebutuhan tersebut sangat penting dan harus dipenuhi untuk kelangsungan  kehidupan manusia itu sendiri. Kuli bangunan adalah orang yang bekerja di bidang pembangunan suatu proyek dengan mengandalkan kekuatan fisik dan kuli bangunan merupakan suatu pekerjaan yang memiliki resiko tinggi.
Situasi dalam lokasi proyek pembangunan, mencerminkan karakter yang keras dan kegiatannya terlihat sangat kompleks sulit dilaksanakan sehingga dibutuhkan stamina dari pekerja yang melaksanakannya. Menjadi seorang kuli bangunan bukan lah hal yang mudah, disamping fisik dan stamina yang kuat, pola fikir juga harus diperhatikan dalam keselamatan kerja.
B.     Teori Konflik Sosial.
Pada dasarnya pandangan teori konflik tentang masyarakat sebetulnya tidak banyak berbeda dari pandangan teori funsionalisme structural karena keduanya sama-sama memandang masyarakat sebagai satu sistem yang tediri dari bagian-bagian. Perbedaan antara keduanya terletak dalam asumsi mereka yang berbeda-beda tentang elemen-elemen pembentuk masyarakat itu. Menurut teori fungsionalisme struktural, elemen-elemen itu fungsional sehingga masyarakat secara keseluruhan bisa berjalan secara normal. Kunci untuk memahami Marx adalah idenya tentang konflik sosial.
Konflik Sosial adalah pertentangan antara segmen-segmen masyarakat untuk merebut aset-aset bernilai. Bentuk dari konflik sosial itu bisa bermacam-macam, yakni konflik antara individu, kelompok, atau bangsa. Marx mengatakan bahwa potensi-potensi konflik terutama terjadi dalam bidang pekonomian, dan ia pun memperlihatkan bahwa perjuangan atau konflik juga terjadi dalam bidang distribusi prestise / status dan kekuasaan politik. Kelas sosial menurut pandangan Karl Marx adalah stratum atau suatu lapisan masyarakat yang dimana orang mempunyai kedudukan dan peranan yang sama. Diantara status-status dalam lapisan masyarakat terseut ada yang dapat digolongkan sederajat. Sehingga orang-orang yang berstatus demikian itu merupakan lapisan masyarakat.
Berdasarkan beberapa pandangan maka kelas sosial dapat diartikan sebagai suatu kelompok manusia yang di dalamnya terdapat pembedaan atas sub kelompok yang didasarkan pada kesamaan derajat.
C.    Buruh.
Buruh selama ini dipersepsikan sebagai kelompok pekerja di pabrik yang berjumlah ratusan hingga ribuan orang. Dengan kekuatan kuantitatif yang dimiliki oleh buruh, asosiasi yang menaungi mereka memiliki kekuatan untuk mendapatkan posisi tawar saat berhadapan dengan pemilik perusahaan ataupun pemerintah.
1.      Secara umum pengertian Pekerja / buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.
2.      Pengertian buruh di masyarakat adalah orang yang bekerja di wilayah-wilayah " kasar" seperti pekerja bangunan, pekerja yang bekerja dipabrik.
3.      Merujuk ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), buruh adalah orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah.
4.      Sedangkan karyawan adalah orang yang bekerja pada suatu lembaga (kantor, perusahaan, dan sebagainya) dengan mendapat gaji (upah).
Meskipun KBBI memadankan kedua kata buruh dan karyawan dengan kata pekerja (orang yang melakukan suatu pekerjaan), tapi kedua istilah pertama punya perbedaan yang mendasar, setidaknya berdasarkan apa yang didefinisikan KBBI.
1.      Buruh adalah orang yang bekerja untuk orang lain,
2.      Karyawan bekerja untuk suatu lembaga atau instansi atau perusahaan.
Karyawan (Bahasa Inggris: employee) memiliki karakteristik :
a.       terikat dalam kontrak kerja dengan lembaga atau perusahaan atau instansi.
b.      Ada kontrak tertulis yang ditandatangani kedua belah pihak.
c.       Ada gaji yang dibayar.
d.      Ada tunjangan yang ditambahkan.
e.       Ada fasilitas yang diberikan.
f.       Jumlah karyawan lebih dari seorang.
g.      Bekerja dalam kurun waktu yang telah ditentukan.
Walaupun si karyawan kenal dengan pemilik perusahaan, niscaya tidak ada hubungan apa-apa antara keduanya. Karyawan hanya memiliki dan menjalin ikatan dengan Bagian Sumber Daya Manusia atau Bagian Personalia. Gajinya diatur oleh orang-orang bagian ini yang memiliki status yang sama dengan orang lain di perusahaan tersebut: sebagai karyawan. Itulah sebabnya pekerja di Hong Kong dan Taiwan lebih senang disebut sebagai Buruh Migran Indonesia (BMI) alih-alih Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ataupun Tenaga Kerja Wanita (TKW).
Karena mereka memahami betul arti buruh menurut pengertian bahasa dan budaya Indonesia. Seperti yang kita ketahui, manusia adalah makhluk sosial, yang selalu membutuhkan bantuan dari orang lain. Begitu pula halnya terhadap usaha kita dalam memenuhi kebutuhan primer di atas. Salah satu kebutuhan primer yang harus dipenuhi adalah rumah atau tempat tinggal. Kita menyadari kemampuan yang ada dalam diri kita berbeda-beda. Dalam hal ini, tidak semua orang mempunyai kemampuan untuk membangun sebuah rumah. Untuk itu, kita membutuhkan bantuan dari orang yang memiliki skill dalam hal membangun sebuah rumah. Tentunya tidak mudah untuk membangun atau membuat sebuah rumah, belum lagi dengan risiko yang akan dihadapi.
D.    Pekerja / Kuli Bangunan.
Pekerja bangunan (Bahasa Inggris: labour) biasa disebut juga buruh bangunan. Pembangunan gedung kantor, rumah pribadi, sampai jalan dan jembatan, tak lepas dari peran mereka. Tenaga dan kerja mereka masih sangat dibutuhkan. Tempat tujuan profesi pekerja bangunan tentu saja perkotaan. Sebenarnya di desa juga ada pekerjaan, tetapi sedikit menyerap tenaga kerja. Sifat pekerjaan terbagi atas pekerjaan bangunan pribadi dan pekerjaan yang dikelola oleh suatu perusahaan.
Pekerja bangunan atau ada juga yang menyebut sebagai kuli bangunan terbagi atas dua tingkat, yaitu :
1.      Tenaga atau Laden, ada juga yang menyebutnya Layan.
Tenaga atau Laden bertugas melayani apa saja kebutuhan Tukang dalam bekerja
2.      Tukang.
Tukang bertugas mengerjakan proses berdirinya suatu bangunan. Tentu saja Tukang tingkatnya lebih tinggi dibanding Tenaga atau Laden. Karena itu bayaran hariannya berbeda. Tukang juga terbagi menjadi dua, yaitu :
a.       Tukang Kayu
b.      Tukang Batu.
Biasanya kedua Tukang ini bekerjasama berdasar keahlian. Tapi terkadang ada juga yang mampu merangkap. Seperti halnya pada kepegawaian dengan tingkatan pangkat, pada pekerja bangunan juga mengenal tingkatan karier.
Tingkatan terendah adalah Tenaga atau Laden / Layan. Tingkat selanjutnya yang lebih tinggi tentu saja Tukang. Karier profesi pekerja bangunan rata-rata hanya sampai pada tingkat Tukang. Dimana pada tingkat ini biasanya sudah mempunyai spesialisasi tersendiri, misalnya spesialis pemasangan keramik, spesialis finishing pengecatan, spesialis pemasangan kaca, dll. Namun pada dasarnya mereka mempunyai keahlian yang sama dalam pembuatan tembok bangunan. Sebenarnya karier profesi sebagai Tukang masih bisa berlanjut lagi, tetapi jarang terjadi. Urutan kenaikan karier setelah Tukang adalah Kepala Tukang, Mandor, dan tentu saja Pemborong Bangunan atau bahkan Bos Borong.
Kepala Tukang diambil dari Tukang yang nantinya bertanggung jawab terhadap mandor atas apa saja yang dikerjakan. Hadirnya tukang bangunan dalam proses membangun atau rumah atau bangunan merupakan pendukung penting dalam membangun sebuah bangunan  karena tanpa adanya tukang siapa yang akan mengerjakan apa yang telah di desain oleh arsitek. Kuli bangunan adalah tujuan utama dari pindahannya desa ke kota.
Kuli Bangunan adalah orang yang bekerja di bidang pembangunan suatu proyek dengan mengandalkan kekuatan fisik dan kuli bangunan merupakan suatu pekerjaan yang memiliki resiko tinggi. Situasi dalam lokasi proyek pembangunan, mencerminkan karakter yang keras dan kegiatannya terlihat sangat kompleks sulit dilaksanakan sehingga dibutuhkan stamina dari pekerja yang melaksanakannya. Menjadi seorang kuli bangunan bukan lah hal yang mudah, disamping fisik dan stamina yang kuat, pola fikir juga harus diperhatikan dalam keselamatan kerja. Lalu bagaimana dengan kuli bangunan yang berasal dari desa apakah mempunyai kepuasan yang berbeda atas pekerjaannya misalkan dari segi upah, motivasi kerja dikota, resiko yang harus dihadapi kerja dikota dan bagaimana cara membagi hasil pendapatan untuk keluarga dikampung dan kehidupannya sendiri di kota tersebut.

0 komentar:

Post a Comment