Agama Yahudi : Silsilah, Peribadatan, Nabi, Kitab Suci, Sekte nya


Agama Yahudi : Silsilah, Peribadatan, Nabi, Kitab Suci, Sekte nya

A.    Pendahuluan.
Agama Yahudi, sebagai agama Samawi, merupakan salah satu agama yang terbesar di dunia. Agama ini berpusat di daerah Israel (Palestine). Dalam bahasa Inggris, orang Yahudi disebut Jews dan pemeluknya disebut Judaism. Agama ini adalah salah satu agama samawi yang diklaim sebagai agama tertua di dunia dan berasal dari Ibrahim. Banyak penjelasan mengenai agama Yahudi, salah satunya yang menyatakan bahwa agama Yahudi itu merupakan suatu keyakinan yang dihubungkan dengan ide ketuhanan serta perwujudan suatu bangsa yang telah dipilih Tuhan. Ada juga yang menjelaskan bahwa agama Yahudi itu adalah agama yang dihasilkan oleh proses perkembangan sejarah Bani Israel yang sudah melalui masa sekian lama, ditumbuhkan dari ide Taurat, Talmud dan watak pembawaan bangsa Israel itu sendiri. Agama ini berkitab sucikan Taurat. Bangsa Yahudi, menurut sebagian sejarawan, hakekatnya adalah bangsa campuran berbagai unsur (mixed race) yang dipersatukan oleh satu nasib dan watak. Mereka hidup mengembara seperti orang Badui. Untuk mendapatkan wilayah untuk tinggal, bangsa ini melakukan peperangan dengan penduduk pribumi. Salah satunya berperang dengan penduduk Kananiah (Palestine). Dasar pemikiran dan tingkah laku Yahudi adalah Talmud, yaitu pedoman rahasia yang tidak diketahui dengan pasti, kecuali oleh mereka sendiri. Dengan demikian, posisi agama Yahudi sebagai agama samawi, seakan berubah menjadi organisasi rahasia. Sejarah agama Yahudi diklaim sejak adanya Nabi Musa (4000 tahun yang lalu). Dalam paham agama Yahudi, mereka memiliki semacam keyakinan akan “ Goya “. Goya, atau dalam bahasa Ibraninya disebut “ Gentiles “, merupakan keyakinan bahwa mereka diciptakan sebagai bangsa (umat) pilihan Tuhan, dan bangsa lain diciptakan Tuhan untuk melayani Yahudi semata. Dalam Protokol – protokol Pendeta Zionis, istilah ini disebut Yahudi dan Yoyeem (umami). Agama Yahudi, dalam kehidupan keagamaannya, mempunyai beberapa keyakinan seperti tentang akan datangnya Sang Messiah, konsep ketuhanan maupun ritual – ritual ibadahnya.
B.     Silsilah dan Agama Yahudi.
Yahudi (Judaism, Yudaisme), tidak dapat dijelaskan semata – mata dalam konteks sebuah keyakinan keagamaan, tetapi juga terkait dengan satu bangsa, Bangsa Israel. Mendefinisikan Yahudi dalam konteks ras juga menimbulkan beberapa masalah, karena Yahudi tampil dalam bentuk ras yang berbeda. Ada Yahudi Eropa, Yahudi Afrika dan juga Yahudi – Yahudi lainnya. Mereka menggunakan bahasa dan budaya dimana mereka tinggal. Namun diyakini, pemeluk agama Yahudi, yang terbanyak adalah dari keturunan Israel (Ya’kub). Namun, umat Yahudi sendiri menyatakan bahwa agama Yahudi adalah agama untuk satu bangsa, satu suku saja. Agama Yahudi tidak untuk disebarkan ke bangsa atau suku lain. Mereka menyatakan bahwa Musa atau Bangsa Israel diperintah Tuhan untuk menyeru agama Yahudi hanya untuk Bani Israel. Jikalau ada suku atau orang yang bukan keturunan Bani Israel masuk agama Yahudi, maka ia akan cepat – cepat dihisabkan ke salah satu keturunan dari cabang – cabang Bani Israel. Esensi agama Yahudi terletak pada apa yang disebut sebagai The Ten Commandments atau Decalogue, yang berarti “ Sepuluh Perintah Tuhan “. Sepuluh perintah tersebut mengandung aspek akidah, ibadah, syari’ah, hukum dan etika.
Sepuluh Perintah tersebut antara lain : 1.     
1.      Aku adalah Tuhanmu, yang telah membawa kamu keluar dari Mesir, keluar dari rumah perhambaan. Jangan ada Tuhan bagimu selain Aku.
2.      Jangan diperbuat olehmu akan patung ukiran atau akan barang peta daripada yang dalam langit di atas, atau daripada barang yang di atas bumi di bawah, atau daripada barang yang di dalam air di bawah bumi. Jangan kamu menyembah sujud atau berbuat bakti kepadanya – Nya, karena Akulah Tuhanmu.
3.      Jangan kamu menyebut Tuhan dengan sia – sia, karena Tuhan suci dari segala orang yang menyebut nama – Nya dengan sia – sia.
4.      Ingatlah pada hari Sabbath , hari dimana kamu tidak boleh bekerja. Bekerjalah dihari – hari selain hari Sabbath.
5.      Berilah hormat kepada bapa dan ibumu.
6.      Jangan kamu membunuh.
7.      Jangan kamu berbuat zina.
8.      Jangan kamu mencuri.
9.      Jangan kamu mengatakan kesaksian dusta akan sesama manusia.
10.  Jangan kamu ingin akan rumah sesamamu manusia, jangan kamu ingin akan bini sesamamu manusia, atau akan hamba sahayamu, pada hewan dan akan barang apa – apa yang sesamamu manusia punya.
Tradisi keagamaan Yahudi berasal dari proses sejarah yang panjang, melalui lisan para nabi dan rabi mereka, dengan konsep – konsep Ketuhanan dan moral yang terus menerus diwariskan dan dimatangkan. Tema sentral agama Yahudi adalah hubungan manusia dengan Tuhannya melalui perjanjian yang ditetapkannya. Tuhan adalah Maha Kuasa, Pencipta segalanya, yang mendengarkan dan menyelamatkan hamba – Nya. Tuhan mempunyai banyak nama dalam agama Yahudi. Seperti The Strong One (Maha Kuat), El Shaddai (Maha Kuasa), El Olom (Maha Kekal), El Khai (Maha Hidup), El Elyon (Maha Tinggi), Elohim (Tuhan), Adon (Penguasa), Adonay Tzivaot (Penguasa Segala Pasukan), Melekh (Maha Mengatur).  Ajaran ke – Esaan Tuhan menurut Yahudi adalah hasil perkembangan dari kepercayaan yang henotis menuju kepercayaan yang mengakui ke – Esaan Tuhan. Ketika Yahudi masih menganut kepercayaan animisme, roh – roh nenek moyang mereka sembah, yang kemudian dalam tingkatan politeisme menjadi dewa. Kata “ Hebrew “, yang berarti Tuhan, merupakan kata yang berasal dari kata “ eloh / elohim “. Tiap kabilah dari Yahudi, dahulu, mempunyai “ eloh “ sendiri – sendiri. Dan akhirnya, penganut Yahudi mengakui “ elohim “ dari bukit Sina, yakni “ YeHoVah “. YeHoVah kemudian menjadi Tuhan nasional Yahudi, dan “ eloh – eloh “ yang lain tidak diakui lagi.  Istilah “ YeHoVaH “, tidak diketahui pasti dari mana sumbernya. Huruf hidup Ibrani baru ada sekitar tahun 500 M. Sebelum itu, huruf Ibrani tidak ada huruf saksi (vokal). Sifat YeHoVaH menurut Taurat ada dua macam yakni antromorfisme dan antropopatisme. Yang pertama, menyifati Tuhan sebagai manusia, seperti Tuhan mempunyai bibir, berkata – kata, mempunyai tangan dan sebagainya. Yang kedua, menyifati Tuhan dengan berbagai perasaan manusia, seperti Tuhan membenci, berdiam diri, marah, mengasihi dan sebagainya.
Kepercayaan kaum Yahudi ( Israel ) kepada YeHoVaH melalui beberapa fase. Fase pertama, mereka tidak menghiraukan seruan Nabi Musa untuk menyembah YeHoVaH sebagai satu – satunya Tuhan. Akan tetapi, mereka justru menyembah anak lembu dan ular yang dianggap suci. Fase ini terjadi ketika Bani Israel dipimpin oleh Nabi Daud. Fase berikutnya, pada masa Haikal Sulaiman. Pada masa ini, mereka ( Yahudi Israel ) menganggap bahwa YeHoVaH tidak banyak bedanya dengan batu – batu berhala atau patung – patung, sebab disitulah tempat bertumpunya semua roh dan disitu pula tempat mempersembahkan korban penyembelihan dan juga tempat terpancangnya kepala anak lembu. Fase setelah masa Haikal Sulaiman, umat Yahudi pada masa ini tetap saja seperti masa – masa sebelumnya. Ketika Yesaya menyeru kepada mereka untuk meng-Esakan Tuhan, sedikit sekali diantara mereka yang mendengarkannya. Yang terjadi justru mereka menuduh Yesaya sebagai pengkhianat (bersekutu dengan Raja Cyrus, Raja Persi).
Sepanjang masa sejarahnya, umat Yahudi Israel tidak pernah menyembah Tuhan Yang Maha Esa seperti yang diajarkan oleh para nabinya. Ada anggapan bahwa agama Yahudi terdiri dari dua asa pokok, yaitu keEsaan Tuhan dan terpilihnya Bangsa Israel. Hal ini tercantum dalam Kitab Imamat Lew 20 : 24 – 26 : “ Aku inilah Tuhan Allahmu, yang telah mengasingkan kamu daripada segala bangsa yang lain. Maka, hendaklah kamu menjadi suci bagi – Ku, karena Aku ini Tuhan Yang Maha Suci adanya, maka Aku telah mengasingkan kamu daripada segala bangsa yang lain itu, supaya kamu menjadi umat – Ku “. Dan dalam Kitab Ulangan 7 : 6 – 8 : “ Sesungguhnya engkau wahai Israel, adalah bangsa yang suci bagi YeHoVaH, Tuhanmu. Engkau telah menjadi pilihan utama YeHoVeH, Tuhanmu, agar engkau menjadi bangsa yang utama daripada bangsa lain di muka bumi ini. Tuhan berdampingan dengan kamu dan telah memilih kamu “.
Dengan dasar ini, mereka membandingkan dirinya (Israel) dengan bangsa lain seperti manusia dan binatang. Bangsa Israel, mereka anggap sebagai manusia dan bangsa lain sebagai binatang atau yang melayani Bangsa Israel. Namun pada kenyataannya, Bangsa Israel yang mengklaim bahwa dirinya adalah bangsa pilihan, justru melakukan hal – hal yang tidak menunjukkan kepatuhan kepada Tuhannya. Mereka memberontak, membelakangi Tuhan, dari kafir menjadi iman dan kembali ke kafir lagi, di satu saat menyembah Tuhan, namun di saat lain mereka menyembah berhala. Agama Yahudi, juga mempercayai akan datangnya seorang Sang Messiah di akhir zaman. Mereka menggambarkan Sang Messiah adalah utusan dari langit dan pemimpin yang akan mencurahkan segala petunjuk dan pengajaran, sehingga umat manusia mencapai kemuliaan dan khususnya, Bani Israel, akan dipertuankan di muka bumi. Mereka meyakini bahwa Al Masih (Messiah), bukanlah manusia biasa, melainkan seorang yang sakti yang diciptakan Tuhan jauh sebelum sejarah manusia dimulai. Dia nantinya akan diberi kekuatan oleh Tuhan dan akan muncul dalam bentuk manusia yang memiliki tabiat campuran antara tabiat manusia dan tabiat Tuhan. Mereka juga menganggap bahwa Al- Masih yang ditunggu itu adalah seorang raja, penakluk yang berjaya, berasal dari keturunan Daud dan bernama “Anak Allah”. Ia akan datang untuk mengembalikan Israel kepada kebesaran, mempersatukan mereka yang terpecah belah dan terserak - serak untuk menjalankan hukum - hukum Taurat sebaik - baiknya.
C.    Peribadatan Agama Yahudi.
Dalam segi peribadatan, agama Yahudi mempunyai beberapa tradisi ibadah. Antara lain sembahyang, puasa, perayaan hari – hari suci, kurban, syari’ah dan etika.
1.      Sembahyang.
Sembahyang, dilakukan umat Yahudi 3 waktu dalam sehari, yaitu jam 9, 11, dan jam 3. Tidak ada tuntunan yang jelas tentang bagaimana umat yahudi melaksanakan sembahyang. Perintah sembahyang tiga kali sehari tercantum dalam kitab Talmud. Sembahyang pagi dilakasankan mulai terbit fajar sampai sepertiga panjang siang hari, kira-kira jam 10.00. Sembahyang siang dimulai sesaat setelah matahari condong ke barat sampai matahari terbenam, dan sembahyang malam mulai malam tiba sampai terbit fajar. Yang terpenting dalam setiap sembahyang umat Yahudi ialah apa yang disebut dengan tefillah (menurut Talmud), amidah, yaitu tegak berdiri mengawali sembahyang dengan mengucapkan shalawat sebanyak 19 kali, 3 kali pertama memuji kekuasaan Tuhan, Kemahaperkasaan-Nya, dan kesucian-Nya, 3 kali yang terakhir sebagai ucapan terimakasih atas rahmat-Nya yang tidak putus - putus, doa penutup untuk keselamatan dan kedamaian, sedang 13 lainnya ditengah - tengah dan merupakan permohonan untuk segala keperluaan.  Dalam sembahyang pagi dan malam, amiddah di dahului oleh sema, syahadat pertama orang Yahudi. Sema ditandai dengan 2 macam yaitu pujian kepada Tuhan yang telah menciptakan terang menderang pada waktu sembahyang pagi dan yang mengatur perjalanan hari dan malam pada sembahyang malam, dan pujian kepada Tuhan karena kecintaan-Nya kepada Israel sesuai dengan wahyu-Nya. Setiap sembahyang selalu diakhiri dengan alenu wajib atau doa wajib.
2.      Puasa Yahudi.
Umat Yahudi biasanya berpuasa ketika dalam masa berkabung atau berduka cita. Hal ini tercantum dalam kitab Samuel 1, 13:13, kitab Imamat Lewi 16: 29. Tujuan puasa bagi mereka adalah untuk menghapuskan dosa dan mensucikan diri dan menyatakan rasa keprihatinan. Puasa orang Yahudi dimulai ketika fajar menyingsing hingga kelihatan tiga buah bintang yang pertama terbit pada senja hari yang bersangkutan.
3.      Korban Dalam Agama Yahudi.
Korban merupakan salah satu upacara ibadat yang penting bagi umat Yahudi. Korban dalam tradisi umat yahudi di bagi menjadi tiga, yaitu korban perdamaian, korban pemujaan, dan korban lain-lain. Korban perdamaian adalah korban yang dilaksanakan untuk memohon perdamaian dengan Tuhan atas dosa yang di perbuat tanpa sengaja. Korban pemujaan terdiri dari korban bakar, korban keselamatan, dan korban sesaji. Korban lain-lain terdiri dari korban perjanjian, korban pelantikan umum, dan korban pembunuhan. Secara garis besar sesuai dengan bentuk korbannya tujuan korban itu adalah untuk memuliakan YeHoVaH, menembus dosa, dan mengadakan persekutuan dengan-Nya.   
4.      Hari Suci Yahudi.
Hari suci dalam umat Yahudi disamping erat hubungannya dengan korban, juga erat kaitannya dengan peristiwa sejarah, musim panen, dan juga dengan Hilal. Hari suci dalam umat Yahudi antara lain Hari Paskah (hari raya untuk merayakan pembebasan orang Israel dari perbudakan Fir’aun), Hari Pantekosta (hari ke-50 pesta paskah panen), Hari Perdamaian Besar (hari ke 10 bulan ke 7 menurut penanggalan Yahudi yang dirayakan dengan cara berpuasa untuk penghapusan dosa), Hari Pondok Daun (hari raya pengumpulan hasil panen), Hari Penembusan Dosa (jatuh pada akhir bulan ke-6 atau awal bulan ke-7 kalender Yahudi), Hari Bulan Baru (perayaan dan pensucian hari pertama tiap bulan yang dirayakan dengan kurban dan perjamuan), Hari Sabbath (hari Sabtu dimana orang Yahudi dilarang beraktivitas).   
5.      Syari’ah Yahudi.
Agama Yahudi, merupakan salah satu agama yang mempunyai hukum dan putusan – putusannya. Hukum dalam Yahudi antara lain mencakup hukum sipil (jangan merampas barang orang lain), hukum perhambaan, hukum kriminal (jangan membunuh, berzina, mencuri dan bersaksi palsu). Selain itu, di dalam agama Yahudi juga terdapat hukum khitan. Mereka mengadopsi khitan dari tradisi masyarakat Mesir kuno. Hukum waris dalam agama Yahudi menempatkan anak laki – laki sebagai pewaris utama dari orangtuanya. Hak waris tidak membedakan antara anak yang dilahirkan sah dari perkawinan dengan anak yang lahir dari hasil perzinaan. Hukum perkawinan dalam agama Yahudi menganjurkan pernikahan untuk anak laki – laki yang sudah berumur 13 tahun dan perempuan yang berumur 12 tahun. Atau orang yang sudah mencapai akil baligh, maka boleh melaksanakan pernikahan. Dalam agama Yahudi ada suatu larangan untuk menikah dengan orang yang bukan Yahudi (diharamkan).
6.      Etika Yahudi.
Hal terpenting bagi kesucian etika agama Yahudi adalah keadilan dan kebenaran. Kesucian menurut mereka, adalah dasar Yahudi sebagai suatu sistem undang – undang agama dan moral. Mereka percaya, bahwa orang Yahudi tidak akan dapat mencintai Tuhan jika tidak ada yang berpegang teguh pada kebenaran. Dalam konteks Bani Israael (Yahudi), mereka belum sepenuhnya dikatakan cinta kepada Tuhannya jikalau belum bisa mencintai orang lain dan tetangganya melebihi cinta kepada dirinya sendiri. Etika dalam agama Yahudi juga melarang apa yang dinamakan genebath daath. Yakni, perbuatan ataupun omongan yang berpura – pura (manis di lidah). Selain itu, umat Yahudi juga diperintahkan agar menjaga keselamatan makhluk, saling dengki, menganiaya sesama, riba dan memberi makan kepada orang miskin. Selain genebath daath, dalam etika agama Yahudi juga ada istilah gemeluth chasadim, yakni berbuat baik kepada manusia seperti menjenguk orang sakit, melayat jika ada umat Yahudi yang meninggal, sopan santun dan saling menghormati. 
D.    Nabi – Nabi Yahudi.
Agama Yahudi dikenal sebagai agama yang banyak nabi. Nabi yang diturunkan kepada umat Yahudi berusaha untuk menyeru umat Yahudi agar meninggalkan kejahatan dan kembali ke jalan yang benar, yakni mematuhi ketentuan – ketentuan Taurat yang diwariskan oleh Nabi Musa. Umat Yahudi, Israel, memang tergolong umat yang suka meniru kebudayaan atau tradisi bangsa lain. Banyak diantara umat Yahudi yang meniru tradisi atau cara hidup bangsa yang pernah menaklukkan mereka, seperti menyembah berhala. Namun kebanyakan pemuka agama mereka (pendeta, imam, dll) membenci nabi – nabi yang diutus Tuhan ini. Nabi umat Yahudi, dalam pengajarannya, lebih menekankan ke aspek moral dan keimanan. Hal ini dikarenakan moral dan iman umat Yahudi yang mudah goyah dan menyeleweng. Nabi yang dianggap sebagai nabi sejati umat Yahudi antara lain Isaiyah (Yesaya), Yeremia, Ezekil, Daniel, Amos, Obaya, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Maleakhi, Hagai, Zakaria, Elia, Natan dan Debora. Sedangkan Musa, Harun, Daud dan Sulaiman mereka anggap sebagai raja mereka.
E.     Kitab Suci Agama Yahudi.
Kitab suci agama Yahudi diakui juga sebagai bagian dari Kitab suci agama Kristen yaitu Perjanjian Lama. Umat Yahudi membaginya menjadi :
1.      Kitab Taurat (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan).
2.      Kitab Nabi - nabi, meliputi : nabi - nabi yang dahulu (Kitab Yusak, Hakim-hakim, Samuel dan  Raja - raja), nabi-nabi yang kemudian (Yesaya, Yeremia, Yezezkil, dan 12 nabi kecil mulai dari Hosea sampai Maleakhi).
3.      Surat - surat, terdiri dari Mazmur, Ayub, Amtsal, Rut, Nudub, al-Khatib, Ester, Daniel, Ezra, Nehemia dan Tawarekh.
Umat Yahudi tidak mengakui kitab Perjanjian Baru sebagai kitab suci. Selain dari Taurat mereka juga mengakui kesucian beberapa kitab, yaitu Talmud dan Protokol - protokol Pendeta Zionis. Talmud adalah suatu himpunan tafsiran tentang kitab suci yang pertama, yaitu Taurat. Tafsiran ini berisi tentang hukum, peradaban, kemanusiaan dan ketuhanan. Kandungannya berisi tentang kejadian atau sejarah bangsa Yahudi ribuan tahun yang lalu. Sejarah umat Yahudi masa lalu mereka jadikan sebagai pedoman hidup. Mereka lebih memuliakan Talmud daripada Taurat. Talmud, terbagi menjadi dua macam, Talmud Palestina dan Talmud Babilonia. Yang pertama dihasilkan oleh pendeta - pendeta Yerusalem sewaktu bani Israel tinggal menetap di Palestina, dan yang kedua tersusun pada waktu mereka berada dalam pembuangan di Babil. Adapun intisari Talmud terdiri dari 5 bagian. Bagian pertama berisi tentang sejarah seperti kelahiran Ibrahim, cerita Qabil dan Habil, kehancuran Babilonia, Sodom, dan Gomorah sampai dengan keluarnya Musa dari Mesir. Bagian kedua berisi tentang tafsiran kitab seperti hukuman Tuhan dan kisah raja Sulaiman yang bijaksana. Dalam agama Yahudi, juga terdapat tradisi mistik. Tradisi mistik ini bersumber dari Perjanjian Lama (Taurat) dan aliran yang sudah tercampur dengan filsafat Yunani. Mistik dalam agama Yahudi antara lain mistik Markabah, Hechaloth, Mistik Hadinisme dan Mistik Kabbalah.
F.     Sekte – Sekte Agama Yahudi.
Dalam tiap – tiap agama manusia, bisa dipastikan akan ada yang namanya sekte. Sekte adalah suatu pecahan dari salah satu agama yang ajarannya sudah tidak ortodoks (tidak sesuai dengan ajaran aslinya). Penyebab munculnya sekte tersebut dikarenakan adanya perbedaan pemahaman atau interpretasi terhadap ajaran tertentu dari suatu agama yang dianut. Begitu juga yang terjadi dalam agama Yahudi.
Agama Yahudi mempunyai beberapa sekte antara lain :    
1.      Sadducees.
Lahir dari kalangan pemuka Yahudi pada abad 1 M sebelum berakhir (awal abad 2 M). Ajaran dari sekte ini adalah bahwa akhirat itu tidak ada, termasuk surga, neraka, pembalasan dan hidup sesudah mati. Mereka tidak menerima Talmud. Taurat pun tidak mereka sucikan. Bersifat status quo dan bekerja sama dengan Pemeritahan Romawi (Raja Pontius Pilatus).
2.      Pharisees.
Yakni golongan yang terdiri dari golongan masyarakat Yahudi menengah. Guru, pengkhotbah atau penyiar agama merupakan salah satu orang yang masuk dalam sekte ini. Mereka hidup membujang dan zuhud dalam biara (sinagog). Mereka percaya akan adanya hari kiamat, hari pembalasan, surga, neraka dan malaikat. Mereka juga mematuhi Taurat dan Talmud. Talmud dikumpulkan oleh para rabbi. Mereka meyakini bahwa apa yang mereka katakan adalah dari Tuhan. Mereka sangat mengharapkan hukum Taurat disemua aspek, mempertahankan dan mengembangkannya.
3.      Essenes.
Yakni golongan yang mengasingkan diri dari kekacauan umat Yahudi pada masa itu (abad ke 1 M). Mereka juga menolak tradisi – tradisi dari Yunani atau luar Yahudi. Golongan ini juga mengajarkan bahwa umat Yahudi adalah pilihan Tuhan. Mereka tidak menerima kitab selain Taurat.   
4.      Zealouts.
Adalah golongan umat Yahudi yang fanatik terhadap kekuatan kaum mereka sendiri. Sekte ini lebih dekat ke hal – hal yang berbau politik. Juga disebut sebagai gerakan bawah tanah terhadap Pemerintahan Romawi waktu itu (abad 1 M).  
5.      Pembaca.
Sekte terkecil diantara sekte – sekte lain dalam agama Yahudi. Pengikutnya berasal dari pengikut Sadducees dan Pharisees yang membelot. Mereka hanya menerima Taurat dan melakukan ijtihad.
6.      Penulis.
Sekumpulan orang Yahudi yang bertugas menuliskan syari’at bagi orang yang memerlukannya.

0 komentar:

Post a Comment