Pandangan Karl Marx tentang : Pertentangan Kelas, Agama, Ideologi dan Moda Produksi


Pandangan Karl Marx tentang : Pertentangan Kelas, Agama, Ideologi dan Moda Produksi

A.    Pertentangan Kelas.
Marx sering menggunakan istilah kelas di dalam tulisan - tulisannya, tetapi dia tidak pernah mendefinisikan secara sistematis apa yang dia maksud dengan istilah ini (SO dan suwarno,  1990:35). Namun hal ini belumlah merupakan deskripsi yang sempurna dari istilah kelas sebagaimana yang digunakan Marx.  Kelas, bagi marx, selalu di definisikan berdasarkan Potensinya terhadap konflik. Karena kelas didefinisikan sebagai sesuatu yang berpotensi menimbulkan konflik, maka konsep ini berbeda - beda baik secara teoritis maupun historis. Sebelum mengidentifikasi sebuah kelas, diperlukan suatu teori tentang di mana suatu konflik berpotensi terjadi dalam sebuah masyarakat. Bagi marx, sebuah kelas benar - benar eksis hanya ketika orang mmenyadari kalau dia sedang berkonflik dengan kelas - kelas yang lain. Tanpa kesadaran ini, mereka hanya akan membentuk apa yang disebut marx dengan suatu kelas di dalam dirinya. Ketika mereka menyadari konflik, maka mereka menjadi suatu kelas yang sebenarnya, suatu kelas untuk dirinya.
B.     Agama sebagai Candu.
Marx juga melihat agama sebagai sebuah ideologi. Dia merujuk pada agama sebagai candu masyarakat, namun sebaiknya kita simak seluruh catatannya : Kesukaran agama - agama pada saat yang sama merupakan ekspresi dari kesukaran yang sebenarnya dan juga protes melawan kesukaran yang sebenarnya.  Agama adalah napas lega makhluk yang tertindas, hatinya dunia yang tidak punya hati, spiritnya kondisi yang tanpa spirit.  Agama adalah candu masyarakat. Marx percaya bahwa agama, seperti halnya ideologi, mereflesikan suatu kebenaran, namun terbalik. Karena orang - orang tidak bisa melihat bahwa kesukaran dan ketindasan mereka di ciptakan oleh sistem kapitalis, maka mereka diberikan suatu bentuk agama. Marx dengan jelas menyatakan bahwa dia tidak menolak agama, Pada hakikatnya, melainkan menolak suatu sistem yang mengandung ilusi - ilusi agama.
C.    Ideologi.
Perubahan - perubahan yang penting untuk perkembangan kekuatan - kekuatan produksi tidak hanya cenderung dicegah oleh relasi - relasi yang sedang eksis, akan tetapi juga oleh relasi - relasi pendukung, institute - institusi,dan khususnya, ide - ide umum.  Ketika ide - ide umum menunjukan fungsi ini,  Marx memberikan nama khusus terhadapnya : ideologi. Sebagai halnya dengan istilah - istilahnya yang lain Marx tidak selalu persis tentang penggunaan kata ideologi.  Dia menggunakan kata tersebut untuk menunjukan bentuk ide - ide yang berhubungan. Ideologi merujuk kepada ide - ide yang secara alimiah muncul setiap saat di dalam kapitalisme, akan tetapi yang, karena hakikat kapitalisme, merefleksikan realitas di dalam suatu yang terbalik (larrain,1979). Nilai manusia tidak benar - benar tergantung pada uang dan kita sering menemui orang yang hidup membuktikan kontradiksi - kontradiksi itu.  Faktanya, di sinilah level yang kuat sering menjadi sadar akan kontradiksi - kontradiksi material yang diyakini Marx akan membawa kapitalisme ke fase selanjutnya. Misalnya, kita menjadi sadar bahwa ekonomi bukanlah sebuah sistem objektif dan independen, melainkan sebuah ranah politik.
D.    Moda Produksi.
Di dalam proses produksi sosial yang dilakukannya, manusia memasuki relasi - relasi tertentu yang niscaya dan tidak bergantung pada keinginan mereka. Relasi - relasi produksi ini tergantung pada suatu langkah tertentu dari perkembangan kekuatan - kekuatan produksi material mereka. Totalitas hubungan - hubungan produksi ini membentuk struktur ekonomi masyarakat,yang merupakan fondasi sebenarnya dari suatu superstruktur hukum dan politik yang berhubungan satu banding satu dengan bentuk - bentuk kesadaran sosial yang jelas. Pada tahap tertentu dari perkembangan mereka, kekuatan - kekuatan produksi material di dalam masyarakat berkonflik dengan relasi - relasi produksi yang ada atau – apalagi kalau bukan ekspresi legal dari hal yang sama – dengan relasi properti tempat mereka bekerja sebelumnya. Dari bentuk - bentuk perkembangan kekuatan - kekuatan produksi ini, Relasi - relasi tersebut berubah menjadi kendala - kendala yang mengikat. Kemudian muncullah suatu periode revolusi sosial. Ketika fondasi ekonomi mengalami perubahan, keseluruhan superstruktur juga mengalami perubahan yang lebih kurang sama. 

0 komentar:

Post a Comment